REPORTASENTT.COM, LEWOLEBA- Polemik surat skorsing yang diterima seorang Bidan di RS Bukit Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, memunculkan cerita lain di balik kebijakan internal rumah sakit tersebut.
Perawat bernama Agustina Sabu Beda, A.Md.Keb, yang akrab disapa Aty, mengaku mengalami perlakuan tidak pantas dari Wakil Direktur RS Bukit Lewoleba, Mikhael Honi Kolin, sebelum surat skorsing diberikan kepadanya.
Aty menceritakan, suatu hari ia dipanggil ke ruang kerja wakil direktur. Dalam pertemuan itu, ia mengaku ditawari bantuan uang dan diminta menyerahkan nomor rekening pribadi. Ia juga menyebut adanya ajakan berpelukan yang membuatnya tidak nyaman.
Baca Juga: Skema Baru TPG 2026 Dinilai Belum Tuntas, PGRI Flores Timur Soroti Ketidakpastian Sistem
“Saya menolak secara halus dan memilih keluar ruangan karena merasa tidak nyaman,” kata Aty saat ditemui di Lewoleba.
Menurut dia, peristiwa serupa kembali terjadi saat mengembalikan laptop milik rumah sakit yang sebelumnya digunakan untuk mengerjakan proposal akreditasi.
Ketika itu, ia kembali diminta memberikan nomor rekening pribadi.
Baca Juga: Piche Kota Mengeluh Sakit Usai Ditangkap, Jalani Observasi Medis di RSUD Atambua
“Saya tetap tidak memberikan nomor rekening dan langsung meninggalkan ruangan,” tuturnya.
Dalam perkembangannya, Aty menerima surat skorsing dan diminta mengembalikan sejumlah fasilitas kantor, termasuk laptop, kepada wakil direktur.
Cerita tersebut kembali menjadi perhatian dalam sebuah pertemuan di ruang dekenat yang dihadiri keluarga dan kuasa hukum Aty.
Baca Juga: Spesialis Gasak Mesin Mobil, Jejak Komplotan Remaja Ini Terendus di Sejumlah Bengkel Kupang