Setelah persiapan selesai, tahap pemilihan dimulai melalui Konklaf, proses pemungutan suara rahasia yang diadakan secara ketat di Kapel Sistina, Vatikan.
Seluruh Kardinal Elektor yang berusia di bawah 80 tahun memiliki hak suara untuk memilih pengganti Paus.
Sebelum Konklaf dimulai, sebuah Misa khusus bernama Pro Eligendo Papa digelar di Basilika Santo Petrus.
Baca Juga: Menara Eiffel di Paris Akan Dipadamkan untuk Mengenang Wafatnya Paus Fransiskus
Usai Misa, para kardinal masuk dalam Kapel Sistina dan dikunci di dalam, terisolasi dari dunia luar hingga Paus baru terpilih.
Selama proses pemilihan, semua bentuk komunikasi dengan dunia luar dilarang total. Tidak ada ponsel, internet, surat kabar, atau akses siaran apa pun.
Aturan Ketat dalam Pemilihan Paus
Untuk dapat terpilih sebagai Paus, seorang kandidat harus mendapatkan suara dua pertiga dari total jumlah pemilih yang hadir. Proses ini bisa memakan waktu beberapa hari, tergantung dinamika pemungutan suara.
Jika dalam tiga hari pemilihan tidak membuahkan hasil, proses dihentikan sementara untuk refleksi, doa, dan diskusi informal di antara para kardinal.
Baca Juga: Arus Balik Peziarah Semana Santa Larantuka: Tradisi Usai, Kota Kembali Sunyi
Setelah itu, pemungutan suara dilanjutkan hingga ada satu kandidat yang memenuhi syarat.
Simbol dan Tradisi
Setiap sesi pemungutan suara diakhiri dengan pembakaran surat suara. Jika pemilihan belum menghasilkan keputusan, asap hitam (fumata nera) akan mengepul dari cerobong Kapel Sistina.
Sebaliknya, asap putih (fumata bianca) menandakan bahwa Paus baru telah terpilih.
Setelah itu, Paus yang baru terpilih akan menerima jubah putih dan tampil di balkon Basilika Santo Petrus untuk menyapa umat, dalam tradisi yang dikenal sebagai Habemus Papam.