nasional

DPR Sindir Program Makanan Gratis: Jangan Sampai Jadi Makanan Beracun Gratis

Sabtu, 27 September 2025 | 21:21 WIB
Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani. (Foto/ DPR RI)


REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani akhirnya buka suara soal kasus keracunan massal yang membayangi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
 
 
 
Dengan nada tegas, ia menekankan perlunya evaluasi total terhadap program yang baru berjalan, namun sudah menelan korban.
 


“Dalam fungsi pengawasannya nanti tentu saja kami akan melakukan pengawasan di tempat-tempat yang mana ada masalah. Misalnya di dapur-dapur MBG atau di sekolah penerima, sehingga bisa terlihat sebenarnya masalahnya ada di mana,” ujar Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (23/9/2025).
 
 
 
 
 Baca Juga: Bentrok Pemuda Sumba dan Warga Nelayan di Lasiana, Empat Luka-Luka, Polisi Bertindak Cepat
 


Sindiran terselubung pun terasa. Bagaimana mungkin program yang diklaim sebagai “investasi generasi bangsa” justru berbuah tragedi di lapangan? Alih-alih menyehatkan, makanan gratis itu justru menyeret anak-anak ke rumah sakit.
 
 
 


Menurut Puan, evaluasi harus menyeluruh, dari standar dapur, jalur distribusi, hingga pengawasan di sekolah.
 
 
 
 
 
 
 
Ia mengingatkan agar tidak ada pihak saling melempar kesalahan.
 
 
 
 
 
 Baca Juga: SMAN 1 Adonara Tengah di Flores Timur Canangkan Literasi Jumat Hening
 
 
 
 
 
“Evaluasinya itu harus dilakukan secara total. Jadi jangan saling menyalahkan, tapi kita evaluasi bersama sehingga jangan terulang kembali,” katanya, seolah menegaskan bahwa yang salah bukan hanya tukang masak, melainkan juga sistem yang gegabah.
 
 
 


Puan juga mengingatkan kembali bahwa MBG adalah program strategis pemerintah.
 
 
 
 
Dengan kata lain, kegagalannya bukan sekadar soal nasi basi atau lauk kurang matang, tapi soal kredibilitas kebijakan negara.
 
 
 
 
 
 Baca Juga: Warga Kepung Markas Brimob di Seram Timur, Polisi Akui Salah dan Minta Maaf
 


“Marilah kita bekerja bersama dalam membangun bangsa dan negara dengan bergotong royong. Fokus kita adalah memperbaiki, bukan mencari kambing hitam,” ujarnya.
 
 


Kasus keracunan yang menimpa sejumlah siswa di berbagai daerah memang memantik keprihatinan publik.
 
 
 
 
Distribusi amburadul dan standar penyediaan makanan yang longgar disebut-sebut jadi biang masalah.
 
 
 
 
 
 Baca Juga: Kasus Kekerasan Anak di Adonara, Dinsos Dampingi Korban dengan Rehabilitasi Psikososial
 
 


Di penghujung pernyataannya, Puan menegaskan bahwa keamanan dan kualitas gizi harus menjadi prioritas.
 
 
 
 
“Program ini adalah investasi bagi generasi masa depan, jangan sampai tercederai oleh kelalaian teknis,” tandasnya.

Tags

Terkini