Unus Spiritus yang Membebaskan: Seruan Mgr. Budi Kleden Lawan Tengkulak, Pinjol, dan Eksploitasi Alam pada Thabisan Uskup Larantuka

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Rabu, 11 Februari 2026 | 19:29 WIB
Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Larantuka berlangsung khidmat di Katedral Larantuka, Rabu (11/2/2026), dihadiri ribuan umat. (Foto/ Komsos Larantuka)
Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Larantuka berlangsung khidmat di Katedral Larantuka, Rabu (11/2/2026), dihadiri ribuan umat. (Foto/ Komsos Larantuka)

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menyampaikan khotbah reflektif dalam Misa Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Larantuka, Rabu (11/2/2026). Ia mengajak umat memaknai kepemimpinan baru sebagai panggilan merawat persatuan sekaligus menjawab persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Lamaholot.



Dalam homilinya, Mgr. Budi mengenang peristiwa 22 tahun lalu saat Mgr. Fransiskus Kopong Kung memulai pelayanan sebagai Uskup Koajutor. Ketika itu, liturgi dipandu oleh Romo Hans Monteiro yang masih muda.



“Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi dengan komentator kita hari ini, 22 tahun kemudian,” ujar Mgr. Budi, disambut senyum umat.

 

Baca Juga: Guru SMA Katolik Pancasila Borong Mogok Kerja, Yayasan SUKMATIM Gelar Rapat Tertutup



Ia menggambarkan moto Uskup Hans, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes, sebagai panggilan menyatukan tubuh, roh, dan harapan dalam pelayanan.

Tiga ungkapan Latin tersebut, menurut dia, melampaui tata bahasa dan mencerminkan misi yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan umat.

Pada bagian Unum Corpus, Mgr. Budi mengajak Gereja merayakan keberagaman peran dalam satu tubuh. Kesatuan, katanya, tumbuh ketika umat berani melihat dunia dari sudut pandang mereka yang terluka dan tersisih.

 

Baca Juga: Pandji Pragiwaksono Ikuti Peradilan Adat di Tana Toraja, Janji Tak Ulangi Kesalahan



“Kita dipanggil menjadi satu tubuh, bukan seragam, melainkan saling menguatkan dalam perbedaan,” ucapnya.

Ia juga menyinggung tantangan geografis Keuskupan Larantuka yang tersebar di pulau-pulau dan rawan bencana.

Menjadi gembala di wilayah seperti itu, menurut dia, menuntut keterbukaan hati dan keteguhan iman.

 

Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Lebih Hemat, PELNI Buka Diskon 30 Persen Mulai 11 Februari



“Untuk menjadi pemimpin bagi umat yang tinggal terpisah oleh laut, gunung, dan lembah, dibutuhkan batin yang terbuka seperti Bunda Maria dan kesungguhan merawat persatuan,” katanya.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X