Tragedi di Sekolah Kosong: Bangunan Lapuk di TTS Roboh, Nyawa Anak Jadi Korban

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Kamis, 19 Maret 2026 | 18:02 WIB
Reruntuhan bangunan SD Inpres Oepula di Desa Nifukani, TTS, terlihat berserakan setelah ambruk, lokasi tempat anak-anak bermain dan berteduh saat hujan turun. (Foto TBN Polda NTT)
Reruntuhan bangunan SD Inpres Oepula di Desa Nifukani, TTS, terlihat berserakan setelah ambruk, lokasi tempat anak-anak bermain dan berteduh saat hujan turun. (Foto TBN Polda NTT)

 

REPORTASENTT.COM, TTS- Peristiwa memilukan terjadi di Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Rabu (18/3/2026) sore. Sebuah bangunan lama SD Inpres Oepula yang sudah tidak difungsikan sejak 2023 ambruk saat sejumlah anak berada di sekitarnya.

Bangunan tersebut dikenal warga sebagai lokasi bermain anak-anak karena sudah lama tidak digunakan untuk kegiatan belajar. Saat hujan gerimis turun, beberapa anak memilih berteduh di bawah struktur yang telah rapuh.

Kapolres TTS, Hendra Dorizen, menyampaikan kejadian berlangsung sekitar pukul 18.43 WITA.

 

 

Baca Juga: PELNI Optimalkan Stimulus Ekonomi, Ratusan Ribu Tiket Diskon Tersalurkan

Ia mengungkapkan, kondisi bangunan memang telah lama kosong dan kerap dimanfaatkan anak-anak untuk bermain.

“Bangunan itu sudah lama tidak dipakai sejak 2023, tetapi sering dijadikan tempat bermain anak-anak di sekitar lokasi,” katanya saat ditemui di lokasi kejadian.

Menurut keterangan saksi, peristiwa bermula ketika anak-anak bermain sepak bola di halaman sekolah.

 

Baca Juga: Temuan Baru Sengketa Tanah Keranga! Dokumen 1990 Ungkap Seluruh Sisi Berbatasan Tanah Negara

 

Hujan ringan membuat mereka berlari mencari tempat berteduh di bawah bangunan tua tersebut. Tidak lama berselang, terdengar suara keras sebelum bangunan roboh.

Warga sekitar segera berdatangan untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan. Petugas kepolisian yang tiba di lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara sekaligus membantu proses evakuasi.

Salah satu warga yang ikut menolong menggambarkan situasi saat itu berlangsung cepat. “Kami dengar suara seperti kayu patah, lalu bangunan langsung jatuh. Anak-anak di dalamnya tertimpa,” tuturnya.

 

Baca Juga: Pertemuan Kepala Desa Bahas Konflik Adonara Timur, Pengamat Hukum Sampaikan Tanggapan Berbasis Adat dan Hukum Positif


Korban luka berat segera dibawa ke RSUD Soe untuk mendapatkan penanganan medis, sementara satu korban lainnya mengalami luka ringan.

Dari hasil pemeriksaan awal, bangunan yang berdiri sejak 1991 itu diduga roboh akibat kondisi struktur yang sudah lapuk dan tidak lagi layak digunakan.

Kejadian ini menjadi peringatan bagi masyarakat dan pihak terkait untuk memperhatikan bangunan tua yang berpotensi membahayakan, terutama di area yang masih diakses anak-anak.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X