news

Seniman Konga Flores Timur Kolaborasi di Festival Pasca Penciptaan ISI Surakarta

Senin, 8 September 2025 | 08:37 WIB
Foto bersama dengan koreografer sekaligus akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr. Darmawan Dadijono M.Sn. (Foto/ Tim)


 

REPORTASENTT.COM, SURAKARTA- Maria Eda Buan (71), warga Konga, Flores Timur, diundang berkolaborasi dengan koreografer sekaligus akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr. Darmawan Dadijono M.Sn, dalam karya tari berjudul Ovos.
 
Karya tersebut dipentaskan dalam Festival Pasca Penciptaan, An Artistic Innovation Sanctuary di ISI Surakarta, 7–9 September 2025.

Kolaborasi ini bermula dari pengalaman Dr. Darmawan yang mendengar Maria Eda melantunkan O vos di Konga.
 
 
 Baca Juga: Minum Kopi Pagi Bikin Mood Lebih Bahagia, Efeknya Tahan 2,5 Jam
 
Terkesan dengan kekuatan dan makna spiritual suara itu, seniman peraih Gold Prize (2010) pada Andong Maskdance Festival Korea tersebut kemudian mengundang Maria Eda bersama dua warga Konga lainnya, yakni Nikolaus Noweng Mare dan M. Juang Lewar.

Sejak usia 16 tahun, Maria Eda rutin menyanyikan O vos dalam prosesi Jumat Agung di kampung halamannya.
 
Meski kini sudah pensiun dari tugas itu, Darmawan melihat nyanyian Maria sebagai “arsip hidup” yang menyimpan jejak sejarah, luka, ingatan, doa, serta harapan masyarakat Konga.
 
 Baca Juga: Mentan Andi Amran Sulaiman Ultimatum Mafia Pangan: Negara Tidak Boleh Kalah


“Inspirasi karya ini lahir dari pengalaman riset di Konga, Flores Timur, di mana kesakralan dan kesunyian spiritual menjadi titik temu antara tubuh, bunyi, dan rasa. Ovos adalah ekspresi tubuh atas penderitaan, harapan, dan iman,” jelas Darmawan.


Tubuh sebagai Arsip Nusantara

Festival Pasca Penciptaan 2025 mengusung gagasan utama “membaca tubuh nusantara sebagai arsip hidup.”
 
 
Ketua panitia festival, Eko Supriyanto, menegaskan bahwa tubuh dalam seni bukan sekadar medium ekspresi, melainkan juga alat perlawanan, sumber pengetahuan kolektif, dan pengalaman publik.


Koreografer yang pernah menata tari konser Madonna, Miss World 2013, dan Asian Games 2018 itu menyebut bahwa melalui karya Ovos, tubuh Konga dari Larantuka hadir sebagai salah satu arsip tubuh nusantara yang patut dibaca ulang di ruang global.
 
 
 
Baca Juga: TNI Hadapi Tuntutan Rakyat: Antara Supremasi Sipil dan Bayang- bayang Dwifungsi
 


Rasa Syukur dari Konga
 

Maria Eda bersama Nikolaus dan Juang mengaku kaget dengan undangan kolaborasi ini.
 
 
Namun, mereka bersyukur tradisi kerohanian Konga dapat diperkenalkan ke khalayak luas.
 

“Kami orang-orang sederhana, tapi kesederhanaan kami dilihat sebagai sesuatu yang sangat bernilai adalah pengalaman berharga,” ujar Juang Lewar.
 
 
 Baca Juga: Efisiensi Ala DPR RI di Senayan: Potong Tunjangan, Sisa Rp65 Juta


Pentingnya Mengangkat Tradisi Lokal
 

Seniman Flores Timur, Silvester Petara Hurit, yang dilibatkan sebagai dramaturg dalam karya ini menegaskan pentingnya keberanian mengangkat aktivitas budaya lokal yang kerap dipandang sepele.

“Orang-orang Eropa dulu datang ke sini menulis, memotret, meneliti musik dan nyanyian karena melihatnya sebagai sumber pengetahuan. Celakanya, kita sendiri justru masih sering menganggapnya barang lapuk yang hilang begitu saja tanpa pengarsipan,” katanya.

Tags

Terkini