Tarian Kahe Keang dari Sikka Pukau Penonton pada Malam Puncak Festival Bale Nagi di Larantuka

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Senin, 8 April 2024 | 17:16 WIB
Sanggar seni Soletan Desa Lewomada, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, saat tampil di malam puncak FBN 2024. (Foto/ Tim Reportase)
Sanggar seni Soletan Desa Lewomada, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, saat tampil di malam puncak FBN 2024. (Foto/ Tim Reportase)
 
 

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA - Pada malam penutupan Festival Bale Nagi (FBN)  2024,  sanggar seni Soletan Desa Lewomada, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, hadir dengan membawa tarian 'Kahe Keang' atau tarian sorak sorai. 
 
Tarian ini dipentas di taman kota Felix Fernandez Larantuka, pada Sabtu (6/4/2024).
 
Dengan memadukan tarian budaya dari Lamaholot, Flores Timur dan Tana' Ai Muhan, sanggar tari  Desa Lewomada ini berhasil memukau ribuan penonton dimalam puncak FBN 2024 tersebut.
 
 
Kepala Desa Lewomada, Dominikus Pondeng, disela- sela pertunjukan itu menyampaikan, dirinya sangat bangga karena Sanggar tari Soletan akhirnya dapat tampil di FBN, di Kabupaten Flores Timur.
 
"Tarian Kahe Keang merupakan kolaborasi dari tarian Betu Lelu yang berasal dari Mudajebak - Lamaholot, dan tarian "Hedung Labit' dari Bokang - Tana'Ai," kata Kades Dominikus.

Ia menjelaskan, dalam tarian Kahe Keang sendiri adalah perpaduan antara dua etnis budaya yang tinggal di Desa Lemomada yakni, etnis Lamaholot  yang mendiami Kampung Mudajebak dan suku dari Tana'Ai Muhang yang ada di Kampung Bokang dan Hia.
 
 
Sedangkan Tarian 'Betu Lelu' sendiri jelas Kades, menggambarkan usaha dan kerja keras dari para wanita tangguh Lamaholot, mulai dari memintal benang hingga menghasilkan selembar sarung untuk memenuhi  kebutuhan sandang di dalam keluarga.

"Tarian Hedung Labit menggambarkan tentang keperkasaan para pemuda tangguh dari Tana'Ai Muhang yang berhasil memenangkan peperangan melawan musuh yang jahat," terangnya.

Makna yang tersirat dalam tarian Kahe Keang  kata Kades Dominikus, adalah sorak sorai kemenangan yang diperoleh dari perjuangan dan kerja keras melawan kemalasan dan kemiskinan di wilayah Lewomada.
 
Baca Juga: Servulus Demoor: Festival Bale Nagi Ajang Promosi Wisata Flotim

Dari tarian yang di pentaskan itu kata Dominikus, ingin menunjukan bahwa ada nilai- nilai budaya, keberagaman dan kerukunan dalam bingkai persaudaraan.
 
"Bahwa di Desa Lewomada itu sebagiannya adalah orang Lamaholot, walaupun berbeda tetapi kita tetap rukun dalam segala hal," ujarnya.

Menurut dia, panggung FBN adalah panggung yang sangat luar biasa bagi mereka, hingga mereka dapat tampil di malam puncak FBN 2024 tersebut.
 
 
"Kami sangat bangga bisa tampil di acara ini. Terima kasih secara khusus sampaikan Bapak Kabid Jhon Wilbert dan Kadis Pariwisata dan Budaya Flotim yang sudah memberikan kepercayaan kepada kami, semoga kedepannya kita terus berkolaborasi bersama dalam mengangkat budaya-budaya kita di NTT khususnya di Pulau Flores ini," ungkapnya.

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X