REPORTASENTT.COM, LEMBATA- Di jantung budaya Lamaholot, tersembunyi dua wilayah yang kaya akan sejarah dan makna adat, Wurin dan Eban.
Dua kawasan ini bukan hanya bentang geografis, tetapi juga ruang hidup warisan leluhur yang menyatu dalam ritus, bahasa, dan tanah yang disakralkan.
Bagi masyarakat Lamaholot, Wurin dan Eban bukan hanya tempat tinggal, melainkan tempat bertumbuhnya jati diri sebagai anak tanah dan penjaga adat.
Baca Juga: Satgas Pekat Polres Flotim Amankan 8 Remaja Pesta Miras di Pelabuhan Larantuka
Wurin: Dari Lewo Hala' Lolon Melu hingga Tanah Riang yang Memerah
Wilayah Wurin dikenal sebagai kampung lama dari Lewohala, yang dalam predikat adat disebut Lewo Hala' Lolon Melu.
Di sisi lain, kampung lama Riang menyandang sapaan adat Lewo Riang Tanah Mean, yang secara harfiah bermakna tanah merah yang memancar makna.
Di dalam ruang adat, tanah ini diistilahkan pula sebagai Tanah Nulun Ekan Wadan, tanah yang mengandung pesan leluhur dan kekuatan sejarah.
Baca Juga: Jejak Atlantis di Kaki Ile Ape, Legenda Perang Suku Demon dan Paji di Lembata
Wilayah ini mencakup delapan desa:
- Jontonah
- Toda Nara
- Watodiri
- Muruone
- Wai Pukang
- Kolon Tobo
- Riang Bao, dan
- Petun Tawan
Desa Riang Bao sendiri menjadi potret harmoni etnis, dihuni oleh dua komunitas besar, separuh dari orang Demon dan separuh dari Paji.
Eban: Negeri Lima Pesta dan Tanjung Tua
Di timur Wurin, berdiri wilayah Eban, rumah bagi belasan desa dengan akar budaya yang sama dalam sistem sastra Lamaholot. Di antara desa-desa itu:
- Waowala
- Tanjung Batu
- Lewo Tolok
- Lama Wara
- Bunga Muda
- Napa Sabok
- Lama Gute
- Wai Matan
- Ebak
- Lemau
- Bao Laliduli
- Lama Tokan
- dan Lama Wolo.
Lima desa di ujung tanjung Tuak Wutu, Beutaran, Tagawiti, Dulitukan, Palilolon, dan Kolipadan, menjadi titik penting bagi sejarah migrasi dan pemekaran.
Baca Juga: Judi, Miras, Hingga Narkoba Diburu! Ini Operasi Rahasia Polres Flotim
Dalam syair adat Lamaholot, orang Wurin dan Eban disebut sebagai Tolok Lama Diken, Diken Tena Lema, sebutan puitis untuk merujuk pada lima perkampungan tua yang masih memelihara Pesta Kacang, ritus agraris yang sarat simbol.