Perempuan PGRI: Dari Penopang Keluarga ke Motor Perubahan Sosial

Photo Author
Paulina Labina, Reportase NTT
- Selasa, 30 September 2025 | 06:35 WIB
Poster Webinar bertajuk “Women Empowerment and Love-Based Leadership.
Poster Webinar bertajuk “Women Empowerment and Love-Based Leadership.




 
 

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA-  “Perempuan tidak hanya menjadi penopang keluarga, tetapi juga pilar utama pendidikan dan perubahan sosial.”
 
 
 
Kalimat itu diucapkan Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur, Maksimus Masan Kian, saat membuka webinar Women Empowerment and Love-Based Leadership, Sabtu, 27 September 2025.


Acara yang diikuti 40 guru dari Flores Timur, Sikka, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTU, Belu, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sidoarjo, Bangka Belitung, Lembata, hingga Lejang itu menjadi ruang refleksi,  perempuan hadir bukan pelengkap, melainkan motor perubahan pendidikan dan sosial.
 
 
 
 


Sekretaris Jenderal PB PGRI, Wijaya, M.Pd., menyebut inisiatif Flores Timur “unik dan menggugah.”
 
 
 
Menurut dia, ketika perempuan maju, organisasi ikut bertumbuh.

Keynote speaker, Dr. Lailatul Musyarofah, M.Pd., Ketua PGRI Perempuan Jawa Timur, menyampaikan konsep kepemimpinan cinta: kepedulian, empati, keadilan, dan penghormatan pada martabat manusia. “Memimpin dengan hati, bukan sekadar aturan. Memberdayakan, bukan mendominasi,” ujarnya.
 
 
 
 
 
 
 
 
Gaya itu, katanya, melahirkan rekonsiliasi, bukan perpecahan.
 


Diskusi mengalir ke pengalaman lapangan. Ribka Rolentiana Kekado, Ketua PGRI Kabupaten Kupang, menyinggung paradoks kepemimpinan: semakin memberi, semakin menerima.
 
 
 
 
Ia mengurai tantangan di wilayahnya,  penempatan kepala sekolah, advokasi guru, hingga kasus kekerasan.
 
 
 
 


Aplunia Dethan, Ketua PGRI Kota Kupang, menekankan pentingnya kerendahan hati dan teladan.
 
 
 
Sementara Ariance B. Joru, Ketua PGRI Cabang Ile Mandiri, mengatakan cabang sebagai garda terdepan organisasi.
 
 
 
“Kepemimpinan cinta berarti merangkul anggota, tapi tetap tegas pada prinsip,” katanya.
 
 
 
 


Moderator, Maria M. Yohana Hallan, merangkum benang merah diskusi,  perempuan PGRI bukan sekadar simbol, melainkan pelaku perubahan nyata.
 
 
 
Kolaborasi mereka diyakini menentukan arah pendidikan yang lebih inklusif.
 
.


Acara ditutup Sekretaris Umum PGRI NTT sekaligus Rektor UPG 45 Kupang, Uly J. Riwu Kaho.
 
 
 
 
Ia mengajak menjadikan PGRI bukan sekadar ruang advokasi profesi, melainkan rumah bersama yang menumbuhkan keberdayaan.
 


Maksimus Masan Kian menutup dengan kalimat yang mematri pesan utama, “Ketika perempuan berdaya, pendidikan menjadi kuat, dan bangsa melangkah lebih jauh.”




Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X