Dialog Empat Pilar MPR RI di Solor, Warga Lewograran Soroti Etika Politik dan Pemangkasan Dana Desa

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Minggu, 14 Desember 2025 | 12:46 WIB
Suasana dialog Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Desa Lewograran, Solor Selatan, saat warga menyampaikan aspirasi terkait etika politik dan Dana Desa setempat. (Foto/ Tim )
Suasana dialog Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Desa Lewograran, Solor Selatan, saat warga menyampaikan aspirasi terkait etika politik dan Dana Desa setempat. (Foto/ Tim )

 

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Dialog Empat Pilar MPR RI yang digelar di Desa Lewograran, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menjadi ruang bagi warga untuk menyuarakan keprihatinan terhadap etika politik serta dampak pemangkasan dan keterlambatan pencairan Dana Desa.

Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut merupakan agenda Anggota DPR RI
omisi XI Fraksi Partai NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat.

Namun, karena berhalangan hadir, Julie diwakili oleh Tenaga Ahli (TA), Minarni.


Baca Juga: Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Julie Laiskodat Digelar di Lewograran- Solor, Tekankan Persatuan di Era Globalisasi



Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Tugas (Plt) Camat Solor Selatan Benediktus Masi Jawan, S.Sos., Kepala Desa Lewograran Mateus Buto Wujon, Anggota DPRD Kabupaten Flores Timur Fraksi Partai NasDem Husen Maser, serta Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Lembata, Yuni Damayanti.

Dalam sesi dialog, warga Desa Lewograran, Dominikus Pehan Wujon, menyampaikan pandangannya terkait penerapan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan masyarakat Solor.

Ia menilai kehidupan sosial masyarakat setempat selama ini berjalan rukun meski berbeda keyakinan.



Baca Juga: Disorot Mahfud MD, Peraturan Kepolisian Penempatan Polri di Kementerian Dinilai Tak Bertumpu pada UU



Namun demikian, Dominikus menyoroti dua persoalan yang dinilainya berpotensi bertentangan dengan nilai Empat Pilar.

“Yang pertama soal alkohol, karena sering memicu kekacauan dan merusak suasana kebersamaan. Yang kedua adalah bahasa-bahasa politik yang saling menjatuhkan demi perebutan kekuasaan,” ujarnya.

Ia juga mengkritik perilaku sebagian elite politik yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, wakil rakyat semestinya menjadi teladan agar kepercayaan publik terhadap demokrasi tetap terjaga.



Baca Juga: Dua Turis Inggris Freestyle di Jalan Ramai Labuan Bajo, Polisi Turun Tangan


Selain persoalan etika politik, Dominikus turut menyinggung kondisi daerah, mulai dari potensi defisit anggaran di Flores Timur hingga keprihatinan terhadap warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang hingga kini masih berada di pengungsian.

Ia berharap Julie Sutrisno Laiskodat dapat kembali turun langsung ke Flores Timur untuk melihat kondisi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Flores Timur, Husen Maser, mengungkapkan masih terdapat puluhan desa di Flores Timur yang Dana Desanya belum dicairkan akibat kendala administrasi dan laporan pada tahap pertama dan kedua.


Baca Juga: Pelni Punya Gedung Baru di Lembata, Kantor Cabang Bakal Dipindahkan dari Larantuka


“Total ada sekitar 93 desa di Flores Timur yang Dana Desanya belum cair. Jika rata-rata Rp 300 juta per desa, berarti sekitar Rp 27 miliar tidak masuk ke daerah. Ini berdampak langsung pada perputaran ekonomi serta program unggulan seperti pertanian dan kelautan,” jelas Husen.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Terkini

X