daerah

Rahasia Kerukunan Witihama, Toleransi yang Mendarah Daging

Kamis, 24 April 2025 | 07:29 WIB
Muhamad Boro Tura, salah satu tokoh Adat Witihama, pada acara Halalbihalal. (Foto/ Tim)

Baca Juga: Modus Baru Narkoba: Sabu Disimpan di Tempat Bekal, Dua Orang Diciduk

“Pohon beringin di hadapan kita ini menjadi pohon persatuan masyarakat Witihama. Mari kita rawat hingga ke anak cucu kita, agar mereka pun tetap hidup rukun dalam bingkai toleransi,” ujar Romo Sam.

Hal senada juga disampaikan oleh tokoh masyarakat Ahmad Muktar Lebu Kei.

Dalam sambutannya, ia menjelaskan tiga nilai utama dalam ajaran Islam yang mendorong semangat toleransi, yakni Ohua Watonia (persaudaraan satu darah), Ohua Baharia (persaudaraan dalam satu tempat), dan Ohua Islamiah (persaudaraan seagama).

Baca Juga: Di Balik Data Suram Ekonomi dan Stunting, Ini Harapan Baru Bupati Anton Doni untuk Flores Timur

Menurutnya, konsep Ohua Islamiah tidak dominan terjadi di Witihama, karena masyarakat lebih mengedepankan nilai Ohua Nimun Namhan, istilah dalam dialek Lamaholot yang berarti bersaudara dalam perbedaan.

Camat Witihama, Ismail Daton, dalam pidatonya menggambarkan toleransi sebagai sesuatu yang indah namun tetap menjaga keaslian masing-masing. 

“Toleransi itu ibarat pelangi. Indah karena berbeda warna, namun tidak saling merusak. Dengan toleransi, kita menghargai perbedaan tanpa membedakan keyakinan masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga: Ini Sosok Penting di Balik Kunjungan Menteri Fadli Zon ke Exotic Lamaholot di Adonara

Kerukunan di Witihama menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai leluhur dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang damai dan saling menghormati.

Di tengah tantangan zaman, Witihama memberi pelajaran penting, toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup yang terus diwariskan. (Bernad Nara Gere)

Halaman:

Tags

Terkini