Rahasia Kerukunan Witihama, Toleransi yang Mendarah Daging

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Kamis, 24 April 2025 | 07:29 WIB
Muhamad Boro Tura, salah satu tokoh Adat Witihama, pada acara Halalbihalal.  (Foto/ Tim)
Muhamad Boro Tura, salah satu tokoh Adat Witihama, pada acara Halalbihalal. (Foto/ Tim)

 

 

REPORTASENTT.COM, ADONARA- Masyarakat Witihama di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, telah lama dikenal dengan tradisi hidup rukun dalam keberagaman.

Sejak zaman leluhur, nilai toleransi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Simbol paling nyata dari kerukunan itu terletak di halaman "Naman Tukan", tempat berdirinya pohon beringin tua yang dipercaya sebagai lambang persatuan antar-klen (marga) di Witihama.

 

Baca Juga: Ratusan Warga Serbu Kantor Bupati Manggarai! Dukung Geothermal Poco Leok: Kami Tidak Takut Ancaman

Pohon tersebut ditambatkan sebagai perwujudan tekad para leluhur untuk menjaga kebersamaan, terlepas dari perbedaan latar belakang.

Tidak hanya itu, masyarakat Witihama juga memiliki sejarah unik yang menunjukkan toleransi antarumat beragama.

Di sebuah areal yang sama, berdiri berdampingan sebuah gereja dan masjid yang dibangun atas persetujuan pemilik lahan yang sama, yakni tokoh adat bernama Kei. 

Baca Juga: Dua Pelajar di Lamongan Terlibat Aksi Gangster Bersenjata, Polisi Ungkap Motif Tawuran di Balik Video Viral

Keberadaan dua rumah ibadah tersebut telah menjadi simbol kerukunan yang tetap terawat hingga kini.

Pada Rabu (23/4/2025), Romo Sam Beraona menyampaikan pesan penting dalam peringatan kerukunan di Witihama.

Ia mengajak masyarakat untuk menjaga warisan leluhur berupa nilai persatuan dan toleransi.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X