daerah

Katolik, Portugis, dan Flores Timur: Larantuka Menjadi Warisan Religi Nusantara 

Minggu, 23 November 2025 | 10:54 WIB
Foto/desain by Tim Reportase NTT.

 

Sejak 1950-an, Gereja Katolik di Larantuka juga mengembangkan lembaga pendidikan rohani, termasuk Seminari San Dominggo dan kongregasi lokal perempuan, Daughters of the Rosary Queen, yang didirikan oleh Uskup Manek.



Warisan Portugis dan Pariwisata Religius


Pengaruh Portugis masih terasa hingga kini melalui tradisi Semana Santa (Pekan Suci), nama keluarga, dialek Portugis lokal (“crioulo Portugis”), dan struktur sosial kerajaan.

 

Konfreria Rosari (Brotherhood of the Holy Rosary) menjaga tradisi ritual Katolik dan menjadikan Larantuka sebagai pusat wisata religius yang unik di Indonesia.

 

Baca Juga: Vegan Squad Indonesia Gelar Rangkaian Seminar Iklim di Flores, Kritik Kebijakan Mahal dan Tidak Efektif

Profil Uskup Baru


Mgr. Yohanes Hans Monteiro lahir di Larantuka pada 15 April 1971 dan ditahbiskan menjadi imam pada 14 Juli 1999.

 

Ia menimba ilmu di Seminari Santo Domingo Hokeng dan Institut Filsafat Katolik Ledalero, serta meraih gelar doktor di Universitas Wina, Austria. Sebelum pengangkatan sebagai uskup, Mgr. Monteiro berkarya sebagai dosen liturgi dan formator seminari.

 

Dalam sambutannya, ia menyerahkan tugasnya kepada Tuhan dan Bunda Reinha, serta meminta dukungan doa umat.

 

Baca Juga: Semeru Masih Level Awas, PVMBG Tegas: Zona Bahaya Bisa Diperluas

Dengan pengangkatan Mgr. Monteiro, Larantuka melanjutkan tradisi panjang sebagai pusat Katolik yang menunjukkan ketahanan religius dan sinkretisme budaya khas Flores, sekaligus memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata religius di Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini