"Raja" Trump Main Golf Saat Ekonomi AS Terpuruk: Tidak Relevan atau Tidak Peduli?

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Sabtu, 12 April 2025 | 20:08 WIB
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat saat bermain golf. (Foto/ MetaAI)
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat saat bermain golf. (Foto/ MetaAI)

REPORTASENTT.COM, Washington DC-  Ketika ekonomi Amerika Serikat terguncang dan pasar keuangan kehilangan triliunan dolar, Donald Trump memilih bermain golf dan menghadiri makan malam mewah.
 
Apakah ini bentuk ketenangan seorang pemimpin, atau ketidakpedulian?

Sikap santai Trump di tengah guncangan ekonomi memunculkan pertanyaan besar, apakah mantan presiden yang kini kembali mencalonkan diri ini benar-benar memahami keresahan masyarakat?
 
 
Ataukah ia memang hidup di dalam "gelembung emas" yang membuatnya tak tersentuh oleh kenyataan?

Selama sepekan penuh ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif perdagangannya yang mendadak dan tak terduga, Trump justru terlihat berpindah dari satu lapangan golf ke jamuan makan malam, dari resor mewah ke podium-podium glamor.
 
Sementara pasar goyah, ia malah berseloroh bahwa “ini saat yang tepat untuk menjadi kaya.”
 
Baca Juga: Gelap Mata karena Hal Ini, Pria 64 Tahun Bobol Brankas Adik Iparnya Sendiri

Langkah-langkahnya mengingatkan pada kisah klasik Nero yang bermain musik saat Roma terbakar, atau tokoh Shakespeare Richard III yang dengan sinis menyeret penonton ke dalam rencana jahatnya.
 
Sejumlah pengamat bahkan menyebutnya sebagai "raja gila" yang dikelilingi oleh para penasihat yang selalu setuju tanpa keberanian menyanggah.
 
Tak hanya itu, Trump bahkan absen dalam pemindahan jenazah empat prajurit AS yang gugur di luar negeri.
 
 
Alih-alih hadir sebagai kepala negara, ia justru memilih hadir di makan malam eksklusif yang dikenai biaya hingga $1 juta per piring.
 
Sebuah simbol yang memperkuat kesan bahwa empati bukan bagian dari kamus politiknya.
 
Namun, apakah strategi ini akan berdampak negatif pada popularitasnya? Ataukah justru memperkuat citranya sebagai pemimpin yang “berbeda” dan tidak terikat pada konvensi?
 
Baca Juga: Sidak Diam- diam di Rutan Lombok Utara: 15 Tahanan Diperiksa, AKBP Agus Purwanta Ungkap Hal Ini!

Di media sosial Truth Social, Trump tetap membela kebijakan tarifnya dengan gaya khas: bombastis dan penuh percaya diri.
 
Ia mengklaim negara-negara kini “mencium p4ntatnya” untuk bernegosiasi. Tapi sehari kemudian, ia malah melunak, menunda sebagian tarif selama 90 hari.
 
Anehnya, di tengah kekacauan, Trump justru merayakan kemenangannya dalam turnamen golf di klub pribadinya.
 
 
Sebuah pengumuman resmi Gedung Putih menyebut ia "melaju ke putaran kejuaraan".
 
Di saat yang sama, kabinetnya menyampaikan sinyal kebijakan yang saling bertolak belakang di layar kaca.
 
Apakah ini gaya kepemimpinan baru yang bebas dari tekanan opini publik, atau sinyal bahwa pemimpin ini telah kehilangan kendali dan koneksi dengan realitas?
 
Baca Juga: Indonesia Siap Evakuasi 1.000 Warga Gaza, Misi Kemanusiaan atau Dilema Diplomatik?

Banyak pihak mulai membandingkannya dengan tokoh-tokoh otoriter dalam sejarah dan sastra.
 
Tapi seperti yang dikatakan Maureen Dowd, kolumnis New York Times: “Trump membuat Anda tertawa sebelum menyadari bahwa ia baru saja mengubah aturan main.”

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X