Dalam laporan Nytimes.com, di jalur strategis energi global, Iran menyampaikan kepada organisasi maritim PBB bahwa kapal “non-musuh” masih dapat melintasi Selat Hormuz. Jalur ini sebelumnya terganggu akibat pembatasan yang diberlakukan sejak awal konflik.
Perkembangan menuju potensi de-eskalasi berdampak pada pasar global. Harga minyak mentah Brent turun sekitar 6 persen menjadi 94 dollar AS per barel, sementara bursa saham Asia menguat.
Korban jiwa terus bertambah. Perwakilan Iran di PBB melaporkan lebih dari 1.300 warga sipil tewas, sementara kelompok pemantau menyebut angkanya melampaui 1.400. Di Lebanon, lebih dari 1.000 orang dilaporkan meninggal, sedangkan serangan Iran ke Israel menewaskan sedikitnya 15 orang. Dari pihak Amerika Serikat, 13 personel militer dilaporkan gugur.
Baca Juga: Dari PPN hingga MBG: Mengupas Kinerja Fiskal Indonesia hingga Februari 2026
Di tengah situasi tersebut, Pentagon memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah.
Dengan kedatangan yang dijadwalkan akhir pekan ini, total kekuatan darat Amerika Serikat di kawasan mendekati 7.000 personel, menandai langkah militer signifikan di tengah upaya diplomasi yang belum menemukan titik temu.
Artikel Terkait
Menguak Kasus Sary Doko, Alarm Keras Kejahatan Seksual Anak di NTT
Pasca Bentrokan Warga Postoh-Lewerang, Polisi dan TNI Gelar Patroli Gabungan
Drama Penahanan Eks Menag: KPK Kembali Tahan Yaqut Cholil Qoumas Usai 5 Hari di Rumah
Diduga Salah Arah Navigasi Google Maps, Puluhan Mobil Pemudik Tersesat hingga Masuk Jalan Setapak di Sleman
Kontroversi Joget MBG, Hendrik Irawan Klarifikasi Insentif Rp6 Juta dan Investasi Rp3,5 Miliar