Perdebatan Panas antara Gubernur Dedi Mulyadi dan Remaja AC Soal Penghapusan Wisuda: Isu Settingan atau Nyata?

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Senin, 28 April 2025 | 17:45 WIB
Perdebatan antara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan seorang remaja berinisial AC terkait kebijakan penghapusan perayaan wisuda di sekolah-sekolah Jabar mencuri perhatian publik media sosial. (Foto Facebook Kang Deddy.)
Perdebatan antara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan seorang remaja berinisial AC terkait kebijakan penghapusan perayaan wisuda di sekolah-sekolah Jabar mencuri perhatian publik media sosial. (Foto Facebook Kang Deddy.)

 

REPORTASENTT.COM, JABAR- Perdebatan antara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan seorang remaja berinisial AC terkait kebijakan penghapusan perayaan wisuda di sekolah-sekolah Jabar mencuri perhatian publik media sosial (medsos) dan kini menjadi perbincangan hangat.

Insiden tersebut berlangsung pada 26 April 2025 di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, dan semakin ramai setelah beredar isu yang menyebutkan bahwa perdebatan tersebut adalah rekayasa atau settingan.

Menanggapi isu yang beredar tersebut, Dedi Mulyadi dengan tegas membantah tuduhan tersebut.


Baca Juga: Aksi Heroik! Penerjemah Paus Fransiskus Asal NTT Bantu Turis Jerman Pingsan di Dekat Basilika Santa Maria Maggiore

“Saya tidak tahu menahu soal isu settingan ini. Saya pikir anak itu ikhlas menyampaikan pendapatnya,” ujar Dedi di Pusdai, Bandung, pada Senin, 28 April 2025.

Ia menambahkan bahwa dalam pernyataan AC, ada pandangan yang menganggap bahwa biaya untuk perayaan wisuda sebesar Rp1 juta adalah hal yang ringan, padahal bagi banyak keluarga lainnya bisa menjadi beban berat.

Perdebatan dimulai ketika AC mengkritik keputusan Dedi yang menghapuskan perayaan wisuda di sekolah-sekolah.

Baca Juga: Paus Fransiskus Dimakamkan di Luar Basilika Santo Petrus, Ini Maknanya

AC berpendapat bahwa momen wisuda sangat penting untuk merayakan kelulusan, sementara Dedi Mulyadi menyatakan bahwa kenangan indah dalam pendidikan seharusnya terbentuk dari proses belajar selama tiga tahun, bukan dari momen perpisahan yang menghabiskan biaya.

"Saya menganggap kritik yang disampaikan anak ini adalah bentuk keikhlasan. Orang-orang yang kesulitan ekonomi bisa lebih merasakan dampak penghapusan wisuda," ujar Dedi, menjelaskan motivasi kebijakan tersebut.

Lebih lanjut, Dedi juga mengingatkan bahwa kritik harus disampaikan dengan objektivitas.

Baca Juga: Putaran Uang Puluhan Juta Rupiah dan Tindakan Kriminal, Judi Dingdong Marak di Adonara!

"Terima kasih sudah kritik saya, tapi di saat orang susah mencari uang, kesulitan membayar biaya wisuda dan perpisahan, jangan teriak-teriak mau wisuda,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari unggahan Instagram-nya @dedimulyadi71 pada 27 April 2025.

Sementara itu, AC dengan tegas menanggapi, "Kalau tanpa perpisahan, emang kehilangan kenangan? Kenangan itu bukan pada saat perpisahan, tapi dari proses belajar selama tiga tahun."

AC berpendapat bahwa meskipun perpisahan bukanlah satu-satunya momen penting, tetap ada nilai yang dirasakan siswa saat bersama teman-teman terakhir mereka di sekolah.

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X