Daun palma dikibaskan, pakaian dihamparkan, dan teriakan “Hosana!” menggema di udara. Namun, hanya dalam hitungan hari, suara itu berubah menjadi pekik kemarahan: “Salibkan Dia!”
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin euforia penyambutan seorang Raja berubah menjadi penolakan tragis?
Hari ini, umat Katolik di seluruh dunia memperingati Minggu Palma, sebuah perayaan yang menandai awal dari Pekan Suci, momen paling sakral dalam kalender liturgi Gereja.
Tapi perayaan ini bukan sekadar upacara meriah dengan daun-daun palma.
Ia adalah gerbang menuju misteri besar, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.
Yesus datang ke Yerusalem bukan di atas kuda perang seperti seorang penakluk, tetapi di atas seekor keledai, tindakan yang membingungkan banyak orang pada masa itu.
Yesus datang ke Yerusalem bukan di atas kuda perang seperti seorang penakluk, tetapi di atas seekor keledai, tindakan yang membingungkan banyak orang pada masa itu.
Simbol apa yang sebenarnya ingin Ia sampaikan?
Dalam tradisi kuno, daun palma melambangkan kemenangan.
Dalam tradisi kuno, daun palma melambangkan kemenangan.
Namun kemenangan seperti apa yang dirayakan di Minggu Palma, jika justru dalam beberapa hari kemudian Sang Raja disalibkan?
Baca Juga: Raja Trump Main Golf Saat Ekonomi AS Terpuruk: Tidak Relevan atau Tidak Peduli?
Ironis, sekaligus menggugah, orang yang hari ini bersorak menyambut, bisa jadi besok berseru menolak.
Ironis, sekaligus menggugah, orang yang hari ini bersorak menyambut, bisa jadi besok berseru menolak.
Dan itu bukan sekadar sejarah. Itu adalah cermin, yang menantang kita semua bertanya: Di mana posisi kita hari ini?
Apakah kita juga menukar “Hosana” dengan “Salibkan Dia” saat kenyataan hidup tidak sesuai harapan? Apakah iman kita tetap teguh hanya di saat segalanya berjalan baik?
Apakah kita juga menukar “Hosana” dengan “Salibkan Dia” saat kenyataan hidup tidak sesuai harapan? Apakah iman kita tetap teguh hanya di saat segalanya berjalan baik?
Baca Juga: Viral! Drawing Liga 4 Diduga Tak Transparan, Erick Thohir Geram: Harus Diulang!
Minggu Palma bukan hanya peringatan, melainkan panggilan. Ia mengajak kita masuk ke dalam perjalanan iman yang tidak mudah, menyambut Yesus bukan hanya di jalan kemenangan, tetapi juga di jalan salib.
Tanggal 13 April 2025 ini bukan hanya sebuah tanggal di kalender. Ini adalah undangan: untuk kembali merenungkan, apakah kita masih setia di tengah sorak dan sunyi?
Karena sejatinya, kemuliaan yang abadi tidak datang dari pujian manusia, melainkan dari kesetiaan yang tetap menyala, bahkan ketika cahaya mulai redup.
Minggu Palma bukan hanya peringatan, melainkan panggilan. Ia mengajak kita masuk ke dalam perjalanan iman yang tidak mudah, menyambut Yesus bukan hanya di jalan kemenangan, tetapi juga di jalan salib.
Tanggal 13 April 2025 ini bukan hanya sebuah tanggal di kalender. Ini adalah undangan: untuk kembali merenungkan, apakah kita masih setia di tengah sorak dan sunyi?
Karena sejatinya, kemuliaan yang abadi tidak datang dari pujian manusia, melainkan dari kesetiaan yang tetap menyala, bahkan ketika cahaya mulai redup.
Artikel Terkait
Bunda Julie Sutrisno Laiskodat Gelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Lamahala Jaya
"Raja" Trump Main Golf Saat Ekonomi AS Terpuruk: Tidak Relevan atau Tidak Peduli?
Keheningan Total di Labuan Bajo: Ada Apa pada 18 April 2025?
Nekat Mendaki Tanpa Pemandu, WNA Prancis Tersesat di Gunung Egon- Sikka
Bukan Kue, Isinya Tak Terduga: Barang Haram Ini Ditemukan di Dalam Oven