Doa yang Terapung di Atas Gelombang, Lamalera Menjaga Janji di Semana Santa Larantuka

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Kamis, 17 April 2025 | 21:14 WIB
Ini adalah Stefanus Fotu salah satu nelayan asal Lamalera B, Ia berdiri disamping Pledang di Kelurahan Sarotari, Larantuka.  (Foto/ Tarwan Stanis)
Ini adalah Stefanus Fotu salah satu nelayan asal Lamalera B, Ia berdiri disamping Pledang di Kelurahan Sarotari, Larantuka. (Foto/ Tarwan Stanis)

 

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Dalam arus waktu yang berputar setia tiap pekan suci, nelayan-nelayan dari Lamalera, Kabupaten Lembata, kembali menunaikan janji iman yang telah mereka rawat selama tiga dekade, hadir dan ambil bagian dalam prosesi laut Semana Santa.

Jumat suci besok (18/4), arca Yesus Kristus yang disalibkan, akan diarak keluar dari Kapel Tuan Meninu, menuju Pantai Kuce, Kelurahan Pohon Sirih.

Di antara barisan umat yang berlutut di tepi pantai, perahu-perahu tradisional (peledang) nelayan Lamalera akan terapung, mengawal ritus sakral yang bagi mereka lebih dari sekdar tradisi, ini adalah kisah hidup, iman, dan rasa syukur yang tak lekang oleh musim.

 

Baca Juga: Duh! Produk Ilegal Senilai Rp15 Miliar Disergap Kemendag, Ada Mainan Anak hingga Elektronik dari China

Kisah ini berakar dari sebuah peristiwa yang telah menjelma legenda di bibir-bibir pantai Lamalera.

Kepala Desa Lamalera B, Mateus Gilo Bataona, mengenang tahun 1994, saat dua peledang, perahu tradisional nelayan Lamalera, lenyap diseret paus hingga ke perairan jauh, konon melampaui batas Nusantara, menuju samudra lepas Australia.

Nelayan terombang-ambing berminggu-minggu di lautan, bekal habis, pakaian di badan pun dimakan untuk bertahan hidup.

 Baca Juga: Terungkap! Dokter Kandungan di Garut Jadi Tersangka Kasus Dugaan Kekerasan Seksual

Dalam detik-detik antara hidup dan mati, saat harapan mulai mengering seperti air asin di bibir, seorang bocah laki-laki muncul entah dari mana, menuntun mereka hingga kapal penyelamat datang. Bocah itu menghilang sesaat setelah para nelayan diselamatkan.

Tak ada satu pun yang mengenal bocah itu. Hingga suatu malam, salah satu nelayan mendapat mimpi bahwa bocah itu adalah Tuan Meninu dari Larantuka.

Mimpi itu menggugah nurani para tetua adat. Sebuah perjalanan iman pun dimulai, rombongan adat dari Lamalera mendayung menuju Kapela Tuan Meninu.

 Baca Juga: Wakil Wali Kota Surabaya Armuji Diduga Cemarkan Nama Baik Warga, Dilaporkan ke Polisi

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X