Siswa Jabar Masuk Barak TNI, KPAI Warning: Ada Masalah Serius!

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 15:29 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat meninjau langsung para siswa di barak Tentara Nasional Indonesia (TNI).  (Foto Instagram @Dedimulyadi71)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat meninjau langsung para siswa di barak Tentara Nasional Indonesia (TNI). (Foto Instagram @Dedimulyadi71)

 

REPORTASENTT.COM, BANDUNG- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi sorotan publik setelah meluncurkan program pendidikan karakter dengan mengirim siswa-siswa ke barak Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Program ini mulai digulirkan pada 5 Mei 2025 dan menyasar pelajar dari wilayah Purwakarta dan Bandung.

Dedi Mulyadi menyebut program tersebut sebagai upaya untuk menanamkan kedisiplinan serta membentuk karakter tangguh bagi generasi muda Jawa Barat.

Baca Juga: Pemeriksaan Hotel di Sikka: Ada yang Tertangkap Konsumsi Miras, Tempat Hiburan Malam Diberi Peringatan

Lewat akun media sosial pribadinya, Dedi kerap membagikan momen-momen siswa mengikuti pelatihan barak, termasuk kegiatan fisik dan pelajaran kebangsaan.

Namun, kebijakan ini menuai polemik. Sejumlah pihak menilai pendekatan semi-militer terhadap pelajar berpotensi memunculkan persoalan baru dalam dunia pendidikan.

Di tengah perdebatan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut buka suara.


Baca Juga: Dua Personil Polres Sikka Diganjar Penghargaan Kapolda, Kisah Heroik Mereka Bikin Haru!

Komisioner KPAI Jasra Putra dalam konferensi pers virtual, Jumat (16/5/2025), menyampaikan kekhawatiran terhadap ketidaksiapan teknis dan minimnya standar baku dalam pelaksanaan program.

“Dalam pelaksanaan di dua lokasi berbeda, yakni Purwakarta dan Bandung, ditemukan adanya perbedaan struktur program dan ketersediaan sarana prasarana,” kata Jasra.

Ia juga menyoroti belum adanya keseragaman dalam metode pembelajaran akademik, mengingat peserta berasal dari jenjang dan jurusan berbeda.


Baca Juga: Digerebek Polisi! Puluhan Liter Sopi Disita dari Dua Lokasi di Kupang

“Rasio antara peserta dan pembina pun belum ideal. Ditambah lagi metode pembelajaran mata pelajaran sekolah yang berbeda-beda, ini bisa berdampak pada pencapaian tujuan program,” ujarnya.

KPAI menilai, jika tidak ditangani dengan cermat, perbedaan pendekatan antarbarak berisiko menghasilkan output yang tidak konsisten dan bahkan bisa merugikan siswa secara akademis maupun psikologis.

“Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi mutu hasil dari program secara keseluruhan,” tegas Jasra.

Baca Juga: Matematika Cerdas, Generasi Hebat: IKTL Dorong Literasi Numerasi Lewat Kompetisi Siswa

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X