Administrasi yang Membunuh: Di Balik Kematian Siswa SD di Ngada, Negara Absen Melindungi Anak

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:29 WIB
Foto surat peninggalan almahrum sebelum meninggal. (Foto anak SD Pegang obor malam hari/ ilustrasi)
Foto surat peninggalan almahrum sebelum meninggal. (Foto anak SD Pegang obor malam hari/ ilustrasi)

REPORTASENTT.COM, BAJAWA- Seutas tali melingkar di leher seorang bocah laki-laki di dahan pohon cengkeh setinggi hampir tiga meter. Di depan sebuah pondok kebun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, warga menemukan tubuh Yohanes Bastian Roja, Kamis siang, 29 Januari 2026. Usianya baru 10 tahun. Kematian siswa kelas IV sekolah dasar itu segera menyebar dari Desa Batajawa hingga Desa Nenowea, meninggalkan duka sekaligus tanda tanya.



Pagi itu Yohanes pamit dari rumah ibunya, Maria Goreti Te’a, di Desa Naruwolo. Ia mengeluh sakit kepala. Meski demikian, anak itu tetap diminta berangkat ke sekolah.

 

Sehari sebelumnya, Yohanes bermalam di rumah sang ibu setelah berpamitan dari neneknya, Wilhelmina Nenu, yang selama bertahun-tahun merawatnya di pondok kebun.

 

Baca Juga: Tragedi Siswa SD di Ngada, Rieke Diah Pitaloka Bongkar Masalah Besar di Balik Data Bansos Negara



Sejumlah warga melihat Yohanes tak pernah tiba di sekolah. Sekitar pukul 09.00 WITA, Gregorius Kodo dan istrinya, Rofina Bhara, berpapasan dengan Yohanes yang duduk sendirian di depan pondok sambil memegang selembar kertas.

Kepada mereka, Yohanes mengatakan tidak ke sekolah karena sakit. Sekitar satu jam kemudian, Rofinus Pati juga bertemu anak itu di lokasi yang sama.

Menjelang siang, Kornelis Dopo melihat sesuatu tergantung di pohon cengkeh di depan pondok. Ia memanggil Tanta Lina dan Sekretaris Desa Nenowea, Yohanes Debrito Ria. Warga memastikan tubuh itu adalah Yohanes Bastian Roja.

 

Baca Juga: Ribuan Porsi Makan Gratis, Nol Kendala: Membaca Pelaksanaan MBG di Sikka Lebih Dalam

 

Aparat desa menghubungi pemerintah desa setempat dan Polres Ngada. Polisi mendapati korban telah meninggal dunia sebelum dievakuasi ke Puskesmas Dona.



Jenazah Yohanes dimakamkan sehari kemudian dengan prosesi adat Ngada. Kematian itu masuk kategori mati golo, kematian yang dinilai tidak wajar. Di balik prosesi adat, pemerintah daerah mulai melakukan asesmen lintas sektor.



Hasil asesmen yang berlangsung sejak hari kejadian hingga 4 Februari 2026 membuka lapisan kehidupan Yohanes. Ia tumbuh dalam keluarga yang masuk kategori kemiskinan ekstrem.

Halaman:

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X