Administrasi yang Membunuh: Di Balik Kematian Siswa SD di Ngada, Negara Absen Melindungi Anak

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:29 WIB
Foto surat peninggalan almahrum sebelum meninggal. (Foto anak SD Pegang obor malam hari/ ilustrasi)
Foto surat peninggalan almahrum sebelum meninggal. (Foto anak SD Pegang obor malam hari/ ilustrasi)

 

Baca Juga: Tembaga Raib dari Tower PLN, Polisi Bongkar Aksi Pencurian Berulang Sejak 2025

Ibunya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp50.000 per hari dan hanya mendapat pekerjaan satu hingga dua hari dalam sepekan.

Ayah Yohanes telah merantau ke Kalimantan lebih dari satu dekade tanpa memberi nafkah. Dua saudara kandungnya juga merantau dan tak pernah mengirim bantuan.

Sejak berusia satu tahun tujuh bulan, Yohanes tinggal bersama neneknya di pondok kebun sederhana. Keluarga ini tak memiliki lahan pertanian.

 

Baca Juga: Agama, Skorsing, dan Hak Pekerja: Sengketa Bipartit RS Bukit Lewoleba yang Menguak Batas Kuasa Yayasan

 

Beban lain datang dari utang koperasi sebesar Rp8 juta dengan cicilan mingguan Rp130 ribu.

Di sekolah, Yohanes dikenal sebagai murid berprestasi. Kepala SDN Rutojawa, Maria Ngene, menyebutnya ceria dan tak pernah terlibat perundungan.

Wali kelasnya, Bonifasius Snae, mencatat tingkat kehadiran Yohanes mencapai 99 persen. Ia aktif mengikuti lomba baca puisi dan berada di peringkat lima besar kelas.

 

Baca Juga: Dari BI ke Kemenkeu: Prabowo Resmi Lantik Juda Agung sebagai Wamenkeu

Di balik catatan akademik itu, Yohanes masih menunggak biaya sekolah sebesar Rp720 ribu.

Harapan keluarga pada bantuan pendidikan tak kunjung terwujud. Dana Program Indonesia Pintar milik Yohanes gagal dicairkan oleh Bank BRI Cabang Bajawa karena KTP sang ibu masih tercatat sebagai penduduk Kabupaten Nagekeo.

Upaya mutasi data kependudukan telah dilakukan berulang kali oleh pihak sekolah. Persoalan administrasi serupa membuat bantuan BLTS Kesra sebesar Rp300 ribu per bulan untuk Maria Goreti Te’a juga tak pernah diterima.

 

Baca Juga: Kapolda NTT Beri Atensi Khusus, Tim Psikologi Diterjunkan Dampingi Keluarga Siswa SD di Ngada

Tim asesmen yang melibatkan Dinas Sosial, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Ngada, Polres Ngada, pendamping PKH, pekerja sosial, hingga BLK Sentra Efata Kupang mengidentifikasi empat faktor utama yang membebani kondisi psikososial Yohanes, kemiskinan ekstrem, minim pendampingan orang tua, tekanan ekonomi dan sosial, serta kebiasaan anak memenuhi kebutuhannya sendiri.

Berbagai bantuan baru mengalir setelah Yohanes meninggal. Mutasi kependudukan diselesaikan. Keluarga divalidasi masuk Desil I DTSEN. Bantuan sembako dan rehabilitasi sosial disalurkan. Rencana pelatihan dan pendidikan bagi saudara-saudaranya mulai disusun.

Seluruh rangkaian itu tercatat dalam laporan resmi Pemerintah Kabupaten Ngada yang ditandatangani Sekretaris Daerah Yohanes C. W. Ngebu.

Halaman:

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X