Perlu Anda Ketahui,Inilah Silsilah Keluarga Raden Ajeng Kartini

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Minggu, 21 April 2024 | 18:20 WIB
RA. Kartini foto bersama saudara- saudaranya.
RA. Kartini foto bersama saudara- saudaranya.
 
 
 
 
REPORTASENTT.COM-  Kartini adalah seorang pejuang kemerdekaan dan kedudukan kaumnya, pada saat itu terutama wanita Jawa. Ia mempunyai tanggal lahir yang sama seperti dr. Radjiman Wedyodiningrat, yakni sama-sama lahir pada 21 April 1879.

Ia dilahirkan dalam keluarga bangsawan Jawa di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Setelah bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda, ia ingin melanjutkan pendidikan lebih lanjut, tetapi perempuan Jawa saat itu dilarang mengenyam pendidikan tinggi. Ia bertemu dengan berbagai pejabat dan orang berpengaruh, termasuk J.H. Abendanon, yang bertugas melaksanakan Kebijakan Etis Belanda. (wikipwdia)
 
 
Prof. Dr. Djoko Marihandono, Ayah Kandung Kartini
 
Prof. Dr. Djoko Marihandono dalam bukunya yang berjudul sisi lain Kartini menulis, Raden Mas (R.M.) Sosroningrat merupakan anak dari Pangeran Ario (P.A) Tjondronegoro IV, yang dilihat dari silsilah keluarga masih keturunan dari Prabu Brawijaya Raja Majapahit terakhir (Soeroto, 1982 :10). P. A. Tjondronegoro IV diangkat menjadi bupati pada tahun 1836 menggantikan bapaknya yang sudah berusia lanjut.
 

P.A. Tjondronegoro IV dikenal memiliki kecakapan dan kecerdasan yang luar biasa, karena itu pemerintah Hindia Belanda menunjuknya sebagai Bupati Kudus pada saat masih berusia 25 tahun. Pada 1850 P.A. Tjondronegoro IV dipindahkan ke Demak, untuk mengatasi bencana kelaparan akibat kebijakan sistem tanam paksa.
 
Tugas tersebut berhasil dilaksanakan dengan baik, sehingga pemerintah menganugerahi gelar Pangeran yang menjadi gelar tertinggi pejabat pamong praja. P.A. Tjondronegoro IV mempelopori usaha menaikkan tingkat pendidikan anak-anaknya, sehingga mereka tidak hanya lulus Europesche Lagere School (ELS) atau sekolah dasar bangsa Eropa.2 Belum adanya sekolah menengah di Hindia Belanda tidak menjadi hambatan bagi P.A. Tjondronegoro IV untuk memberikan pendidikan kepada
anak-anaknya.
 
Pada 1861 beliau mendatangkan guru dari Belanda ke rumah (Pane, 2008:2) untuk memberikan pelajaran pengetahuan umum dan etika masyarakat Eropa. P.A. Tjondronegoro IV berharap anak-anaknya bisa memenuhi syarat sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahan.
 
 
Harapan P.A. Tjondronegoro IV terwujud dengan baik, beberapa anaknya berhasil menduduki jabatan sebagai bupati. Mereka juga mampu menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan dalam bahasa Belanda sebagaimana orang-orang eropa. Salah satu dari anak P.A. Tjondronegoro IV adalah Raden Mas (R.M.) Sosroningrat yang mengawali karirnya sebagai Wedana di Mayong, sebuah kota kecil yang yang masuk dalam wilayah Karisidenan Jepara. Jabatan sebagai wedana menguras tenaga dan pikiran R.M. Sosroningrat, karena itu ia membutuhkan teman hidup.
 
Pada 1872 R.M. Sosroningrat memutuskan menikah dengan Mas Ajeng Ngasirah, anak dari pasangan Kyai Haji Modirono dan Nyai Haji Siti Aminah (Soeroto, 1982 : 13). Perempuan desa yang memiliki kedudukan terhormat ditengah masyarakat, karena bapaknya menjadi ulama di Desa Teluk Kawur, Jepara.

Perkawinan R.M. Sosroningrat dengan Mas Ajeng Ngasirah dikaruniai delapan orang anak (Soeroto, 1983:14), yaitu:
 

1. Raden Mas Slamet lahir 15 Juni 1873.
2. Raden Mas Boesono lahir 11 Mei 1874.
3. Raden Mas Kartono lahir 10 April 1877.
4. Raden Ajeng Kartini lahir 21 April 1879.
5. Raden Ajeng Kardinah lahir 1 Maret 1881.
6. Raden Mas Moeljono lahir 26 Desember 1885.
7. Raden Ajeng Soematri lahir 11 Maret 1888.
8. Raden Mas Rawito lahir 16 Oktober 1892.

Pada 1875 R.M. Sosroningrat melakukan pernikahan kembali dengan Raden Ajeng Woerjan atau Moerjam, puteri Bupati Jepara masa itu.
Kedudukan Raden Ajeng Woerjan sebagai keluarga bangsawan menjadikannya sebagai isteri utama R.M. Sosroningrat yang disebut dengan garwa padmi atau raden ayu. Tugasnya mendampingi suami pada saat upacara-upacara resmi.
 
Garwa padmi yang berasal dari keturunan bangsawan memiliki kedudukan istimewa, karena puteranya memiliki hak untuk dimasukan dalam daftar nama calon bupati. Jika garwa padmi tidak memiliki anak laki-laki, baru diambil putera dari garwa ampil.
 
 
Peraturan ini menjadikan pegawai pamong praja berpangkat wedana atau patih yang beristerikan perempuan dari kalangan rakyat biasa, akan menikah lagi dengan perempuan dari kalangan bangsawan yang akan dijadikan sebagai garwa padmi. Pernikahan R.M. Sosroningrat dengan Raden Ajeng Woerjan dikaruniai tiga orang puteri, yaitu :

1. Raden Ajeng Soelastri lahir 9 Januari 1877.
2. Raden Ajeng Roekmini lahir 4 Juli 1880.
3. Raden Ajeng Kartinah lahir 3 Juni 1883.
 
Mas Ajeng Ngasirah, Ibu Kandung Kartini
 
Mas Ajeng Ngasirah merupakan wanita desa yang dibesarkan dalam lingkungan taat beragama karena bapaknya menjadi guru mengaji. Pendidikan agama dan tata krama diajarkan secara langsung oleh kedua orang tuanya, sementara pendidikan formal tidak pernah diikuti.
 
 
Masyarakat pada masa itu menilai anak perempuan tidak perlu mendapatkan pendidikan, karena setelah dewasa nanti hanya bertugas mengurusi urusan rumah tangga yang berkaitan dengan aktifitas di sumur dan dapur.
 
Pada 1872 Mas Ajeng Ngasirah dinikahi oleh Wedana Mayong R.M. Sosroningrat. Keluarga muda ini hidup rukun dan bahagia, apalagi  setahun setelah menikah dikaruniai anak yang kemudian disusul anak lainnya. Anak-anak R.M. Sosroningrat dengan Mas Ajeng Ngasirah berhak menyandang gelar Raden Mas dan Raden Ajeng karena ibunya menjadi isteri sah pertama (Soeroto, 1982 : 25).
 
Poligami yang dilakukan oleh R.M. Sosroningrat menciptakan pengalaman batin tersendiri untuk Kartini yang membekas sangat dalam, karena pada dasarnya perempuan tidak menginginkan perhatian dan kasih sayang suaminya terbagi apalagi harus tinggal dalam satu rumah. Mas Ajeng Ngasirah menerima kondisi tersebut, karena beliau menyadari poligami yang dilakukan suaminya dibolehkan oleh adat dan agama.
 
 
Kedudukan isteri-isteri R.M. Sosroningrat menjadi semakin jelas setelah beliau diangkat menjadi Bupati Jepara pada 1880. Raden Ajeng Woerjan menduduki posisi sebagai garwa padmi, sedangkan Mas Ajeng Ngasirah menjadi garwa ampil. Anak-anak R.M. Sosroningrat memanggil Ibu kepada garwa padmi dan Yu kepada garwa ampil.
 
Walau diakui secara resmi sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia, sosok Ibu Kartini bukanlah seorang superhero atau pahlawan super yang penuh aksi dan tindak jagoan. Untuk itu, sangat sulit untuk mengaktualisasi sosoknya di tengah-tengah kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi saat ini dalam bentuk penayangan visual di berbagai media sosial zaman pasca industri agar sesuai dengan perspektif dan wawasan generasi muda dewasa ini sebagai penerus dan pelurus di masa mendatang.
 
Tampaknya, kreativisme yang lebih dibutuhkan untuk menuangkan aspek abstrak seperti pemikiran dan visi ke dalam penggambaran visual yang nyata, mudah dipahami, inspiratif dan afektif hingga mampu meresap ke dalam sanubari dan benak pemirsanya untuk menjadi kerangka acuan dan rujukan dalam berfikir, bertindak dan bertingkah laku.
 

Ibu Kartini tidak keluar dari struktur sosial kehidupannya, tetapi pemikirannya menyeruak menembus batas-batas yang ada hingga masuk ke lingkungan budaya global. Suatu kenyataan yang menarik adalah bahwa ia tidak sempat lama mengalami kehidupan dalam struktur kolonial, kecuali saat bersekolah di ELS untuk kemudian dibawa kembali ke dalam struktur tradisional dalam wujud pingitan, yang kerap dipandang sebagai struktur transisional kalau bukan perantara, yang senantiasa mendua (dualisme).
 
Ia tetap berada dalam alam kehidupan tradisional. Namun pemikiran dan cita-citanya melintas batas tidak hanya lingkungan kolonial sebagai pijakan semu modern, merambah ke lingkungan global modern yang sebenarnya sebagaimana yang tampak pada penyebaran karya-karyanya ke tataran mancanegara, hingga mencapai Amerika Serikat

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X