news

Doa yang Terapung di Atas Gelombang, Lamalera Menjaga Janji di Semana Santa Larantuka

Kamis, 17 April 2025 | 21:14 WIB
Ini adalah Stefanus Fotu salah satu nelayan asal Lamalera B, Ia berdiri disamping Pledang di Kelurahan Sarotari, Larantuka. (Foto/ Tarwan Stanis)

Di sana, mereka disambut oleh penjaga tiga suku: Qinta Besa, Nalele, dan Rita, pewaris tradisi lama yang menjaga ornamento religius peninggalan Portugis.

Dalam perjumpaan itu, sebuah perahu peledang diserahkan sebagai simbol pengikat janji. Sebagai balasan, mereka menerima lilin devosi. Simbol yang sederhana, tapi maknanya abadi.

Peledang itu masih disimpan sampai hari ini, sebagai saksi ikatan kekeluargaan dengan Larantuka.

 Baca Juga: Terekam CCTV! Aksi Pencurian Dua Remaja di Kupang Bikin Heboh Warganet  

Kini, tradisi itu terus hidup, melintasi batas generasi. Kehadiran nelayan Lamalera dalam prosesi Semana Santa bukan hanya sebuah ziarah, tapi juga doa yang terapung di atas gelombang, agar Tuhan menjaga mereka dalam perjalanan mencari nafkah di laut.

Mateus menyebut, para nelayan tidak datang sendiri.

Mereka membawa serta keluarga, para perempuan, yang disebut Pnete Alep, berperan sebagai penjaja hasil tangkapan di darat, turut serta dalam perjalanan iman ini.

 Baca Juga: Terungkap! Dua Remaja Putri di Kupang Diduga Bully Lewat Medsos, Suara Ancaman Jadi Bukti

“Selain berdoa, kami juga membawa hasil laut dan hasil kebun untuk dipersembahkan dalam misa devosi, sebagai ungkapan syukur atas berkat yang kami terima kepada Tuan Meninu,” ujar Mateus, Kamis (17/4/2025).

Lamalera dikenal sebagai komunitas pelaut tradisional yang menggantungkan hidup dari laut, termasuk perburuan paus yang dijalankan secara lestari dan turun-temurun.

Mateus Gilo Bataona, kepala desa Lamalera B. (Foto/ Tarwan Stanis)

Bagi mereka, Semana Santa di Larantuka bukan sekedar ritual tahunan, melainkan peneguhan atas iman dan pengingat janji, bahwa hidup di laut bukan hanya soal bertahan, tapi juga tentang bersyukur.

 Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Ini Arti Trewa Menurut Pewaris Tahta Raja Larantuka

Di setiap debur ombak Larantuka, dalam keheningan yang memeluk prosesi Jumat Agung, janji itu kembali diucapkan, dalam diam, Tuhan selalu ada, bahkan di tengah ganasnya samudra.

Halaman:

Tags

Terkini