Hari-hari Yasinta dimulai pukul 5.30 pagi: doa, misa, sarapan, lalu pergi mengajar. Ia juga tengah menempuh studi yang akan selesai dalam waktu dekat.
Baca Juga: Mengecek Makanan Anak, Polda NTT Temukan Kandungan Tak Terduga di Menu Sehari- hari
Di luar biara, ia melayani di paroki dan kampung-kampung yang membutuhkan kehadiran suster.
“Kebahagiaan terbesar saya adalah kebersamaan. Meski kami para suster datang dari latar belakang berbeda, justru di situ saya belajar mengenali kekayaan sesungguhnya, dalam perbedaan ada cinta dan tanggung jawab bersama.”
Namun luka tetap ada. “Pengalaman paling sulit? Kehilangan kedua orang tua saya. Tapi Tuhan tak pernah meninggalkan saya. Dalam salib, saya menemukan kekuatan,” katanya lembut.
Baca Juga: Rampok Masuk Saat Korban Tertidur, 1 Pelaku Ditangkap, 3 Masih Buron!
Panggilan: Anugerah Terindah
Bagi Yasinta, panggilan hidup religius adalah anugerah tak ternilai. Ia yakin, Tuhan masih memanggil banyak jiwa, hanya saja tak semua orang siap untuk menjawabnya.
“Hidup adalah anugerah, jangan biarkan berlalu tanpa makna,” pesannya kepada kaum muda.
Ia mendorong generasi muda untuk mengisi waktu dengan hal-hal yang bermakna dan mencari jati diri dalam terang iman.
Baca Juga: Anggota DPR RI Ungkap Biang Kerok Lemahnya Penegakan Hukum dalam Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan
Mengubah Dunia, Bukan Sebaliknya
Di tengah dunia yang terus berubah, Yasinta tetap memegang teguh panggilannya.
“Harapan saya untuk Gereja dan kaum religius: jangan pernah menyerah dalam keterbatasan. Tuhanlah kekuatan kita.”
Ia mengutip Santa Theresia dari Lisieux: “Jangan biarkan dunia mengubahmu, tapi ubahlah dunia.”
Baca Juga: Misteri Tamu Tengah Malam Terjawab, Rumah Z Ternyata Simpan Puluhan Gram Sabu
Yasinta hidup di tengah perubahan, tapi hatinya tetap berpaut pada kasih Kristus yang tak berubah.