Flores Timur dan Siklus Bencana, Forum Diskusi Kopi Juang Soroti Kegagalan Sistem Mitigasi

Photo Author
Paulina Labina, Reportase NTT
- Kamis, 19 Februari 2026 | 20:38 WIB
Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi para korban bencana erupsi Gunung Lewotobi.  (Foto/ Dok Sar)
Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi para korban bencana erupsi Gunung Lewotobi. (Foto/ Dok Sar)

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Bencana yang berulang di Kabupaten Flores Timur kembali menuai sorotan. Setiap kali letusan gunung, hujan ekstrem, banjir bandang, hingga longsor melanda, warga menghadapi kerusakan dan korban jiwa, sementara respons negara dinilai kerap datang setelah situasi memburuk.



Isu tersebut menjadi fokus Forum Diskusi Kopi Juang bertajuk “Bencana Datang, Negara Terlambat: Sampai Kapan Flores Timur Menunggu?” yang dijadwalkan berlangsung di Larantuka, Sabtu (21/2/2026).

 

Forum ini memandang bencana tidak semata peristiwa alam, tetapi berkaitan dengan sistem mitigasi dan tata kelola yang belum berjalan optimal.

 

Baca Juga: Sehari Setelah Tawuran Wuring, Polres Sikka Turun Tangan: Patroli dan Evakuasi Korban Laka



Koordinator forum, Kristoforus Yakobus Bao Kabelen, pada Kamis (19/2/2026), menyampaikan setiap bencana selalu diikuti pola serupa.

Menurut dia, masyarakat bergerak lebih dulu melakukan evakuasi dan membuka pos darurat sebelum bantuan resmi tiba.

“Warga saling mengevakuasi, gereja membuka pos darurat, komunitas lokal mengumpulkan logistik. Negara datang belakangan. Jika rakyat sudah berfungsi seperti negara, lalu apa sebenarnya fungsi negara di saat krisis?” kata Kristoforus dalam keterangan yang diterima.

Koordinator forum, Kristoforus Yakobus Bao Kabelen. (Foto/ Ist)

Baca Juga: Gubernur NTT Jadi Anggota Kehormatan Menwa, Isyarat Sinergi Politik dan Organisasi Semi-Militer Kampus



Ia menilai penyematan status “rawan bencana” belum diikuti langkah pencegahan yang memadai. Sistem peringatan dini, penataan ruang, hingga integrasi pengetahuan lokal dinilai belum menjadi bagian utuh dari kebijakan perlindungan warga.



Menurut dia, masyarakat Flores Timur memahami wilayah rawan longsor, kawasan berisiko saat hujan deras, hingga gunung yang aktif.

 

Namun, pengetahuan tersebut belum terhubung secara konsisten dengan sistem mitigasi resmi.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X