Baca Juga: Kontroversi Wakaf Al-Qur’an, Taqy Malik dan Randy Permana Bersilang Data Soal Harga Mushaf
Forum ini memandang setiap korban jiwa sebagai sinyal persoalan struktural. Ketika jalur evakuasi tidak jelas dan anggaran belum berdampak pada kesiapsiagaan, bencana berkembang menjadi persoalan sosial dan politik.
Kristoforus menyebut Flores Timur membutuhkan perubahan pendekatan dalam penanganan bencana, mulai dari penataan ruang yang tegas, penguatan sistem peringatan dini, pendidikan kebencanaan berbasis komunitas, hingga keterbukaan anggaran.
“Keselamatan rakyat bukan proposal, bukan seremoni. Itu kewajiban,” katanya.
Baca Juga: Anak di Bawah Umur Diduga Curi Mesin Mebel di Oebufu, Kasus Diselesaikan Secara Restoratif
Diskusi publik tersebut juga diarahkan untuk mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi di Flores Timur.
Forum Kopi Juang menilai keselamatan warga merupakan hak yang harus dipenuhi negara sebelum bencana terjadi, bukan sesudahnya.
Pertanyaan yang mengemuka dalam forum adalah sampai kapan masyarakat menunggu perubahan sistem.
Baca Juga: Penyisiran Intensif Hari Kedua: Kronologi Lengkap Penemuan Mateus Rohi di Perairan Wuring
Bagi Forum Kopi Juang, tanpa pembenahan kebijakan dan pelaksanaan mitigasi yang nyata, siklus bencana di Flores Timur akan terus berulang dan menempatkan warga sebagai pihak paling terdampak.
Artikel Terkait
Sepatu Rusak dan Senyum Tulus Marselinus di Manggarai, Potret Luka Pendidikan di NTT
Kelabba Maja hingga Taman Skyber, Potensi Wisata Sabu Raijua Dipromosikan Wagub NTT
Pergi Jaga Kopra, Lansia di Maumere Ini Ditemukan Tak Bernyawa di Pondok Kebun
Gubernur NTT Jadi Anggota Kehormatan Menwa, Isyarat Sinergi Politik dan Organisasi Semi-Militer Kampus
Sehari Setelah Tawuran Wuring, Polres Sikka Turun Tangan: Patroli dan Evakuasi Korban Laka