REPORTASENTT.COM, LEMBATA- Tradisi makan jagung yang hidup di Desa Lerahinga, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, tetap terpelihara sebagai warisan budaya yang menautkan manusia, alam, dan leluhur dalam satu kesatuan makna.
Ritual tahunan ini dijalankan oleh Suku Tereng sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur atas perlindungan dan keberlangsungan hidup.
Nilai spiritual berpadu dengan harapan akan kesehatan, kerukunan, serta kecukupan ekonomi bagi setiap keluarga.
Baca Juga: Muskomcab dan Mapenta Digelar, Pemuda Katolik Manggarai Timur Perkuat Peran Sosial dan Gereja
Secara kultural, tradisi ini mencerminkan sistem pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Kebudayaan dipahami sebagai cara hidup kolektif yang mencakup kepercayaan, adat istiadat, hingga praktik sosial yang terus berkembang dalam keseharian masyarakat.
Di Desa Lerahinga, pelaksanaan makan jagung tidak berlangsung sembarangan. Pemerintah desa bersama pemangku adat menetapkan aturan khusus terkait waktu pelaksanaan, sehingga setiap suku menjalankan ritual sesuai jadwal yang telah ditentukan berdasarkan perhitungan bulan.
Baca Juga: Nama Oknum Polisi Disebut dalam Dugaan Rekayasa Kasus Narkotika di Adonara
Sebelum ritual dimulai, pemangku adat memastikan kehadiran seluruh anggota keluarga dalam rumah suku.
Persiapan bahan dan perlengkapan juga diperiksa sebagai bagian dari ketertiban adat yang dijunjung tinggi.
Tahapan seremoni dimulai dari rumah suku di Waienga, kemudian berlanjut ke dua rumah suku di Desa Lerahinga.
Baca Juga: Kadis DLH Flores Timur Ajak Petugas Perkuat Kekompakan Jaga Kebersihan Kota
Puncak acara berlangsung di rumah besar desa, menjadi ruang pertemuan sakral antara anggota suku dan nilai-nilai leluhur yang mereka junjung.
“Ritual ini tidak hanya makan bersama, tetapi cara kami menjaga hubungan dengan leluhur dan memohon berkat untuk kehidupan,” kata Apong Tereng, salah satu anak suku disela- sela acara tersebut, Sabtu (18/4/2026).
Prosesi inti diawali dengan penuangan tuak kepada pemangku rumah adat. Selanjutnya, tuak dituangkan mengelilingi meja leluhur sambil diiringi doa dan sapaan adat.
Artikel Terkait
Seleksi Polri 2026 di Manggarai Barat: 49 Peserta Lolos Tahap Administrasi Awal
Langgar Kode Etik, Dua Anggota Polres Ende Resmi Dipecat Tidak Dengan Hormat
Kuasa Hukum Minta Kasus Narkoba Dihentikan, Soroti Kejanggalan Penangkapan di Pelabuhan Larantuka
Nama Oknum Polisi Disebut dalam Dugaan Rekayasa Kasus Narkotika di Adonara
Muskomcab dan Mapenta Digelar, Pemuda Katolik Manggarai Timur Perkuat Peran Sosial dan Gereja