Pekerja layanan didominasi pemuda asal Adonara. Interaksi di tempat itu memperlihatkan pola pergaulan yang mengarah pada jejaring yang sama.
Percakapan, pertemuan singkat, dan lalu lintas orang membuka indikasi ruang sosial yang tak sekedar tempat berkumpul.
Dua warga yang ditemui mengaku siap bersaksi. Mereka menggambarkan pola transaksi yang dimulai dari media sosial, Facebook dan Instagram, kemudian berlanjut ke WhatsApp.
Baca Juga: Kuasa Hukum Minta Kasus Narkoba Dihentikan, Soroti Kejanggalan Penangkapan di Pelabuhan Larantuka
Pendekatan dilakukan melalui kedekatan usia dan relasi pertemanan. Sasaran tersebar di delapan kecamatan di Adonara. Pola ini membuat jaringan bergerak senyap, sulit terdeteksi dari luar.
Temuan paling mengkhawatirkan muncul dari dugaan skenario penangkapan berbayar. Sejumlah warga menyebut adanya tawaran untuk bersedia ditangkap dengan imbalan Rp20 juta.
Skema itu berkaitan dengan pencairan anggaran negara. Dalam skenario tersebut, seseorang akan ditahan selama tiga hari di sel Polres Flores Timur, lalu dilepas setelah proses administratif selesai.
Baca Juga: Nama Oknum Polisi Disebut dalam Dugaan Rekayasa Kasus Narkotika di Adonara
Dugaan ini mengarah pada kemungkinan manipulasi prosedur penegakan hukum.
Rangkaian temuan memperlihatkan relasi yang kompleks: informan, pelaku lapangan, hingga oknum aparat.
Di tengahnya, pelajar menjadi target paling rentan. Jaringan bergerak melalui kedekatan sosial, sementara dugaan penyimpangan prosedur memberi ruang bagi praktek yang lebih sistematis.
Artikel Terkait
Aksi Balap Liar di Maumere Diantisipasi Polisi, Pemuda Diberi Imbauan
Razia Gabungan di Larantuka, Sat Lantas Polres Flores Timur Tertibkan Pelanggar Lalu Lintas
Dana Nasabah Rp7 Miliar Dikembalikan, OJK Kawal Penuntasan Kasus BNI Aek Nabara
Kisah Remaja Boyolali, Dari Bantu Orang Tua hingga Dapat Fasilitas Gratis di Sekolah Rakyat
Gubernur NTT Tekankan Kualitas, 32 Ruas Jalan Strategis Ditangani Sepanjang 2025