Aksi protesnya sempat terekam publik, ketika ia menantang para terdakwa yang keluar dari ruang sidang karena dianggap berbelit-belit dan mengaburkan fakta.
Ia juga menuntut Komandan Batalyon Teritorial Pembangunan Waka Nga Mere dimintai pertanggungjawaban atas kematian putranya.
Baca Juga: Terbongkar! Jaringan Penyeleweng BBM Subsidi di Manggarai, 13 Orang Diseret ke Polisi
Kini, ketika proses peradilan atas kasus kematian Prada Lucky masih berjalan, Chrestian justru berhadapan dengan tuduhan yang menyerang balik dirinya.
Langkah pelaporan terhadap Pelda Chrestian ini menimbulkan tanda tanya publik apakah ini murni penegakan disiplin, atau cara halus untuk membungkam suara seorang ayah yang menuntut keadilan?
TNI menegaskan kasus tersebut semata-mata urusan kedinasan.
Baca Juga: Operasi Senyap KPK di Riau: Tangkap 10 Orang, Termasuk Penyelenggara Negara
Namun, sebagian kalangan menilai waktu pelaporan itu terlalu kebetulan, muncul tepat saat sorotan publik terhadap penanganan kasus kematian Prada Lucky belum mereda.
Hingga berita ini diterbitkan, Pelda Chrestian Namo belum memberikan tanggapan resmi atas laporan yang ditujukan kepadanya.