REPORTASENTT.COM- Setidaknya 144 orang tewas dan 732 orang mengalami luka-luka setelah gempa bumi dahsyat mengguncang Myanmar pada Jumat siang. Guncangan berkekuatan 7,7 skala Richter tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan parah di Myanmar, tetapi juga menewaskan sedikitnya sembilan orang di Thailand, di mana sebuah gedung tinggi yang sedang dibangun di Bangkok runtuh.
Gempa terjadi pada pukul 12.50 siang waktu setempat dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa terletak sekitar 17,2 km dari Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.
Kepala junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing, memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah dan menyerukan bantuan internasional, suatu langkah yang jarang dilakukan oleh pemerintah militer yang biasanya tertutup.
Baca Juga: Hasan Haju Mengundurkan Diri, Persebata Lembata Ditinggal Pelatih Usai ETMC XXXIII
Di Myanmar, saksi mata melaporkan banyak korban jiwa di Mandalay, Toungoo, dan Aungban.
Di Myanmar, saksi mata melaporkan banyak korban jiwa di Mandalay, Toungoo, dan Aungban.
Rumah sakit di ibu kota Naypyidaw kewalahan menangani ratusan korban, dengan beberapa pasien terpaksa dirawat di luar gedung akibat kerusakan fasilitas kesehatan.
Di Amarapura, Mandalay, seorang petugas penyelamat menyatakan bahwa 30 jasad telah ditemukan di bawah reruntuhan gedung apartemen bertingkat.
Di Amarapura, Mandalay, seorang petugas penyelamat menyatakan bahwa 30 jasad telah ditemukan di bawah reruntuhan gedung apartemen bertingkat.
"Kami menerima panggilan bantuan dari orang-orang yang terjebak, tetapi kami tidak memiliki tenaga kerja dan alat berat yang cukup untuk membersihkan puing-puing," ujarnya.
Media sosial dipenuhi rekaman kehancuran, dengan bangunan runtuh dan infrastruktur rusak berat. Pemerintah militer Myanmar telah mengumumkan keadaan darurat di enam wilayah terdampak, sekaligus meminta bantuan donor darah dan pasokan medis akibat banyaknya korban luka.
Dampak di Thailand
Media sosial dipenuhi rekaman kehancuran, dengan bangunan runtuh dan infrastruktur rusak berat. Pemerintah militer Myanmar telah mengumumkan keadaan darurat di enam wilayah terdampak, sekaligus meminta bantuan donor darah dan pasokan medis akibat banyaknya korban luka.
Dampak di Thailand
Di Bangkok, delapan dari sembilan korban tewas adalah akibat runtuhnya sebuah gedung tinggi yang sedang dalam tahap konstruksi.
Tim penyelamat berusaha mencari 81 orang yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Pemerintah Thailand menetapkan ibu kota sebagai zona bencana dan mengerahkan tim penyelamat untuk membantu warga terdampak.
Baca Juga: Aturan Ketat Muatan Red Pack PT. Pelni: Barang Apa Saja yang Dilarang?
Di Chiang Mai, penduduk panik dan berhamburan ke jalan setelah gempa terasa cukup kuat di wilayah tersebut. Beberapa saksi mata menyatakan bahwa ini adalah guncangan paling kuat yang pernah mereka alami.
Di Chiang Mai, penduduk panik dan berhamburan ke jalan setelah gempa terasa cukup kuat di wilayah tersebut. Beberapa saksi mata menyatakan bahwa ini adalah guncangan paling kuat yang pernah mereka alami.
Respons Internasional
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyampaikan belasungkawa dan menyatakan bahwa jaringan bantuan regional sedang dikerahkan untuk membantu para korban.
Organisasi kemanusiaan, seperti Komite Penyelamatan Internasional dan Federasi Internasional Palang Merah, telah mengaktifkan pusat logistik untuk mendistribusikan bantuan darurat, terutama pasokan medis untuk menangani cedera massal.
Seorang juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia menggambarkan gempa ini sebagai "ancaman besar terhadap kehidupan dan kesehatan."
Seorang juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia menggambarkan gempa ini sebagai "ancaman besar terhadap kehidupan dan kesehatan."
Baca Juga: Dedikasi Tanpa Batas: Staf PT. PELNI Larantuka Tabah Atur Arus Penumpang di Tengah Antusiasme Warga
WHO telah menyiapkan pasokan trauma dan alat fiksasi eksternal untuk menangani korban luka yang memerlukan perawatan segera.
Situasi Politik dan Krisis Kemanusiaan
Gempa bumi ini semakin memperburuk kondisi Myanmar yang telah lama dilanda konflik sejak kudeta militer tahun 2021.
Pasukan pertahanan rakyat (milisi anti-junta) menyatakan kesediaannya untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban terdampak.
Sementara itu, kekhawatiran juga muncul terkait potensi dampak terhadap bendungan skala besar di Myanmar.
Sementara itu, kekhawatiran juga muncul terkait potensi dampak terhadap bendungan skala besar di Myanmar.
Para ahli terus memantau kondisi bendungan tersebut guna menghindari risiko tambahan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Myanmar juga menghadapi krisis pangan yang mengancam dua juta penduduk di negara bagian Rakhine.
Dalam beberapa bulan terakhir, Myanmar juga menghadapi krisis pangan yang mengancam dua juta penduduk di negara bagian Rakhine.
Dengan situasi pascagempa yang belum sepenuhnya terpetakan, bantuan kemanusiaan sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana lebih lanjut.
Baca Juga: Mantan Bupati TTU Tenggelam di Perairan Oebubun, Ditemukan Meninggal Dunia
Gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Myanmar dan negara-negara sekitarnya telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan serta merusak infrastruktur vital. Upaya penyelamatan masih terus berlangsung, sementara komunitas internasional mulai mengerahkan bantuan.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Myanmar dan negara-negara sekitarnya telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan serta merusak infrastruktur vital. Upaya penyelamatan masih terus berlangsung, sementara komunitas internasional mulai mengerahkan bantuan.
Myanmar, yang sebelumnya telah mengalami krisis politik dan kemanusiaan, kini harus menghadapi tantangan baru dalam upaya pemulihan dari bencana alam ini.
Artikel Terkait
Duka di Kaki Lewotobi: Hendrikus Kwuta, Korban Abu Panas, Tutup Usia
Dedikasi Tanpa Batas: Staf PT. PELNI Larantuka Tabah Atur Arus Penumpang di Tengah Antusiasme Warga
Aturan Ketat Muatan Red Pack PT. Pelni: Barang Apa Saja yang Dilarang?
Ada Apa dengan Minyak Goreng di Larantuka? Satgas Pangan Polres Flotim Turun Tangan!
Hasan Haju Mengundurkan Diri, Persebata Lembata Ditinggal Pelatih Usai ETMC XXXIII