Tuduhan itu dibantah Uni Eropa. Pada Juli lalu, dinas diplomatik Eropa menyebut klaim serupa sebagai “disinformasi dan tuduhan tak berdasar.”
Sementara itu, oposisi menyerukan “revolusi damai” untuk menumbangkan pemerintahan GD yang mereka nilai semakin otoriter dan pro-Rusia.
Mantan presiden Mikheil Saakashvili, yang kini dipenjara, menyebut momen pemilu daerah ini sebagai “kesempatan terakhir” menyelamatkan demokrasi Georgia.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, hubungan Georgia dengan Barat semakin tegang.
Baca Juga: Irjen TNI Hersan Pimpin Ziarah Nasional Peringati HUT ke-80 TNI di TMP Kalibata
Meski secara resmi mendukung integrasi Eropa, GD di bawah pengaruh pendirinya, miliarder Bidzina Ivanishvili, dituding menjaga jarak dari Barat demi menghindari konflik dengan Moskow.
Konstitusi Georgia sendiri dengan tegas menuliskan tujuan aksesi ke Uni Eropa.
Artikel Terkait
AI dan Reformasi TNI: Isyarat Prabowo untuk Modernisasi Militer Indonesia
Kutukan Mandalika Kembali Menghantui Marquez: Cedera Lama Bangkit, Finis Lagi Gagal
Misteri Mobil Mewah di Tengah Puing Musala Al Khoziny, Siapa Pemiliknya?
Tepuk Sakinah: Dari Ijab Kabul ke Viral, Kini Cinta Bisa Ditepuk- tepuk
Hati-hati! Emas UBS Palsu Bisa Terselubung Bahkan dengan QR Resmi