REPORTASENTT.COM- Korea Selatan dilanda duka mendalam setelah kecelakaan tragis penerbangan Jeju Air 2216 di Bandara Internasional Muan yang merenggut nyawa 179 orang. Saat penyelidikan intensif dimulai, dunia ikut bersimpati atas bencana ini.
Otoritas Korea Selatan telah mengerahkan segala upaya untuk mengungkap penyebab kecelakaan ini.
Kementerian Perhubungan, atas perintah penjabat presiden Choi Sang-mok, memulai inspeksi keselamatan darurat pada seluruh sistem penerbangan di negara tersebut.
Untuk mendukung investigasi, tim dari Amerika Serikat, termasuk Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) dan Administrasi Penerbangan Federal (FAA), akan bergabung dengan Badan Investigasi Kecelakaan Penerbangan dan Kereta Api Korea Selatan (ARAIB).
Perekam data penerbangan pesawat yang ditemukan di lokasi mengalami kerusakan serius.
Perekam data penerbangan pesawat yang ditemukan di lokasi mengalami kerusakan serius.
Jika tidak dapat diurai secara lokal, data ini kemungkinan akan dikirim ke NTSB di AS untuk analisis lebih lanjut.
Baca Juga: Wajib Anda Ketahui! Pemerintah Terbitkan Aturan Tambahan Tentang Kriteria Pelamar pada Seleksi PPPK Tahap 2
Dari 181 penumpang, 179 dilaporkan tewas, dengan 140 di antaranya telah diidentifikasi.
Dari 181 penumpang, 179 dilaporkan tewas, dengan 140 di antaranya telah diidentifikasi.
Jenazah para korban dipindahkan ke kamar mayat sementara untuk proses identifikasi dan autopsi.
Barang-barang pribadi korban dikumpulkan dari landasan pacu, sementara lokasi kecelakaan dilestarikan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Baca Juga: KPK Anak Muda Watoone: Strategi Baru Evaluasi Aset Keuangan untuk Pelayanan Kedukaan
Pemerintah Korea Selatan telah menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari.
Pemerintah Korea Selatan telah menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari.
Altar peringatan didirikan di lokasi kecelakaan dan berbagai kota, termasuk Seoul.
Penjabat presiden Choi menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban, seraya berjanji akan mengungkap hasil penyelidikan secara transparan.
Sebuah penerbangan Jeju Air lain terpaksa kembali ke Bandara Internasional Gimpo pagi ini akibat masalah roda pendaratan.
Pesawat yang digunakan adalah model Boeing 737-800, sama seperti yang terlibat dalam kecelakaan di Muan.
Kejadian ini meningkatkan urgensi pemeriksaan menyeluruh terhadap armada pesawat dan sistem operasional Jeju Air.
Baca Juga: PSI Kritik Tajam Usulan PDIP: Polri di Bawah TNI, Ide Kosong Tanpa Bukti?
Pemimpin dunia, termasuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Paus Fransiskus, turut menyampaikan simpati mereka.
Pemimpin dunia, termasuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Paus Fransiskus, turut menyampaikan simpati mereka.
Pernyataan belasungkawa juga datang dari Jerman, Turki, Spanyol, dan Serbia.
Artikel Terkait
Tragedi Hilangnya Guru Honorer: Ditemukan Tewas di Perairan Ketapang Setelah Dua Hari Mencari
Siapkan Pesawat Udara, TNI AL Tegaskan Kesiapan Pengamanan dan SAR di Tanjungpinang Jelang Nataru
KPK Anak Muda Watoone: Strategi Baru Evaluasi Aset Keuangan untuk Pelayanan Kedukaan
Wajib Anda Ketahui! Pemerintah Terbitkan Aturan Tambahan Tentang Kriteria Pelamar pada Seleksi PPPK Tahap 2
Presiden AS Terlama Berkuasa, Jimmy Carter, Tutup Usia di 100 Tahun: Warisan Perdamaian dan Hak Asasi yang Tak Terlupakan