Melacak Jejak Arak di Flotim, dari Ritual Adat ke Etalase Wisata

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Rabu, 11 Juni 2025 | 20:50 WIB
Seorang wisatawan mancanegara sedang menikmati arak di Desa Helanlangowuyo, Ile Boleng- Adonara. (Foto Tim)
Seorang wisatawan mancanegara sedang menikmati arak di Desa Helanlangowuyo, Ile Boleng- Adonara. (Foto Tim)

 

REPORTASENTT.COM- Di balik beningnya cairan yang dituang dari bambu kecil atau batok kelapa, arak tradisional dari Flores Timur menyimpan lebih dari sekedar rasa tajam di lidah.

Ia adalah kisah panjang warisan budaya Lamaholot, denyut ekonomi rumah tangga, sekaligus simbol solidaritas yang tak tergantikan.

Disebut dengan berbagai nama, moke, sopi, hingga arak merah, minuman keras lokal ini lebih dari sekedar pelepas dahaga atau penghangat malam.

Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih Tuai Kontroversi, Ombudsman RI Gelar Diskusi Bahas Dugaan Maladministrasi

Ia hadir di upacara adat, menjadi alat perdamaian, bahkan penopang ekonomi keluarga miskin di pelosok desa.

Namun kini, di tengah arus regulasi ketat dan modernisasi gaya hidup, arak berdiri di ujung tanduk.

Akankah ia dilestarikan sebagai warisan budaya? Atau justru dikriminalisasi sebagai ancaman sosial?

Baca Juga: Tiba- tiba Dicek! Lambang Ini Wajib Ada di Seragam Polisi, Apa Maknanya?

Dari Nira ke Api, Proses Sakral yang Tak Bisa Dipalsukan

Arak Lamaholot lahir dari tangan-tangan terampil yang menyadap nira pohon lontar atau enau.

Proses fermentasi alami dilakukan dalam wadah bambu.

Penyulingan pun bukan sekedar teknis, ia adalah upacara harian.

Baca Juga: Proyek Chromebook Rp9,9 Triliun Diusut, Nadiem Angkat Bicara: Ayah Saya di KPK!

Dengan tungku batu, pipa bambu, dan tempurung kelapa, cairan manis itu diubah menjadi dua varian utama:

• Arak putih, bening, tajam, langsung menghentak.

• Arak merah, lebih aromatik, menjadi bintang di pesta dan upacara adat.

Baca Juga: Lolos Meski Kalah! Apa Rahasia Timnas Indonesia Tembus Putaran Keempat Demi Mimpi Piala Dunia 2026?


Kadar alkohol? Bisa tembus 60 persen! Tak heran, menuang arak ke atas piring logam lalu menyulut api jadi "uji kemurnian" paling populer di kampung.

Simbol Adat, Nafas Ekonomi

Di Adonara, Solor, dan Flores Timur daratan, arak adalah bahasa budaya.

Ia hadir dalam lamaran, penyambutan tamu, hingga penyelesaian konflik.

Wadah penyajiannya pun beragam, bambu, kendi tanah liat, atau batok kelapa, semua berbicara tentang kesederhanaan.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X