Baca Juga: Kasus Lucky dan Delfi: Di Hadapan Wakapolda NTT, Keluarga Minta Otopsi Ulang
Pada kejadian lain sepanjang 2025, tanah longsor juga sempat menutup badan jalan nasional Ende–Maumere dan mengakibatkan antrean kendaraan cukup panjang, termasuk truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM).
Arus lalu lintas baru kembali normal setelah proses pembersihan dilakukan oleh petugas gabungan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memprakirakan potensi hujan merata di wilayah NTT, termasuk Pulau Flores, pada awal hingga pertengahan Desember 2025.
Baca Juga: Disorot Mahfud MD, Peraturan Kepolisian Penempatan Polri di Kementerian Dinilai Tak Bertumpu pada UU
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan.
Selain faktor cuaca, kondisi geologi Pulau Flores juga turut memengaruhi. Aktivitas kegempaan yang terjadi pada akhir 2025 dinilai dapat melemahkan struktur tanah, sehingga lebih rentan longsor saat diguyur hujan deras.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat dan pengguna jalan yang melintas di jalur Ende–Maumere, khususnya ruas Jalan Trans Flores, untuk:
- Menghindari perjalanan saat hujan lebat di kawasan rawan longsor
- Mematuhi arahan petugas apabila terjadi penutupan jalan atau pengalihan arus
- Memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG
Baca Juga: Jenazah Korban Pengeroyokan Kalibata Diterbangkan ke NTT, Keluarga Sempat Menolak Pengawalan Polisi
Pemerintah daerah bersama aparat terkait terus melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan longsor guna mengantisipasi kejadian serupa di wilayah Kabupaten Ende.