REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Malam yang penuh makna, tampak hentakan kaki perlahan berjalan melewati lorong yang dipenuhi oleh cahaya lilin.
Hening menyelimuti suasana, hanya terdengar lantunan doa-doa yang syahdu mengiringi setiap langkah.
Prosesi San Juan di Larantuka ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah perjalanan rohani yang mendalam.
Setiap cahaya lilin yang menerangi jalan menciptakan atmosfer sakral, seolah-olah menghubungkan dunia fana dengan yang ilahi.
Prosesi ini adalah momen di mana umat berkumpul, merenung, dan mempersembahkan doa dalam kebersamaan yang tulus.
Suara doa yang bergema di lorong-lorong sempit menciptakan harmoni spiritual yang menggetarkan hati.
Baca Juga: Dua Kapal Wisata Kecelakaan di Labuan Bajo, Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi Seluruh Penumpang
Dalam kesunyian ini, setiap orang merasakan kehadiran yang Maha Kuasa, menyatu dalam alunan doa yang terus mengalir.
Setiap langkah membawa umat semakin dekat dengan makna sejati dari prosesi ini.
Setiap langkah membawa umat semakin dekat dengan makna sejati dari prosesi ini.
Cahaya lilin yang berkelap-kelip mengingatkan kami akan harapan dan pengorbanan.
Heningnya malam menambah khidmat, membawa perasaan damai yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ini adalah prosesi yang tidak hanya melibatkan tubuh, tetapi juga jiwa.
Ini adalah prosesi yang tidak hanya melibatkan tubuh, tetapi juga jiwa.
Setiap detik yang berlalu diiringi oleh kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan, membuat malam ini menjadi pengalaman spiritual yang tidak terlupakan.
Prosesi San Juan
Kota Larantuka dikenal sebagai satu- satunya kerajaan Katolik di Indonesia.
Larantuka dikenal oleh masyarakat sebagai tujuan wisata rohani bagi umat Katolik.
Kota kecil yang terletak di kaki Gunung Mandiri ini, memiliki luas sekitar 75,91 kilometer persegi dengan 18 kelurahan dan dua desa.
Selain Semana Santa, di Kota ini juga terdapat sebuah tradisi religius yaitu San Juan.
Pada tanggal 24 Juni setiap tahunnya, umat Paroki San Juan Lebao Tengah Larantuka Flores Timur merayakan “pelindungnya” Santu Yohanes Pembabtis.
Orang-orang di paroki ini menyebutnya dengan nama Persisan San Juan (Prosesi Sakramen Mahakudus dan Patung San Juan).
Pada tanggal 24 Juni setiap tahunnya, umat Paroki San Juan Lebao Tengah Larantuka Flores Timur merayakan “pelindungnya” Santu Yohanes Pembabtis.
Orang-orang di paroki ini menyebutnya dengan nama Persisan San Juan (Prosesi Sakramen Mahakudus dan Patung San Juan).
Baca Juga: Direktorat KMA Gelar SLKL di Desa Bungalawan, Ile Boleng
Tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya lokal dan nilai-nilai agama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Sanjuan, yang berakar dari perayaan Hari Lahirnya Santo Yohanes Pembaptis, telah menjadi simbol persatuan dan identitas masyarakat di Paroki tersebut.
Di hari ini semua umat paroki berbondong-bondong menuju gereja untuk terlibat dalam perayaan ekaristi memperingati hari kelahiran pelindung paroki mereka.
Tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya lokal dan nilai-nilai agama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Sanjuan, yang berakar dari perayaan Hari Lahirnya Santo Yohanes Pembaptis, telah menjadi simbol persatuan dan identitas masyarakat di Paroki tersebut.
Di hari ini semua umat paroki berbondong-bondong menuju gereja untuk terlibat dalam perayaan ekaristi memperingati hari kelahiran pelindung paroki mereka.
Baca Juga: Jelang Pesta Pelindung Paroki, Anak Muda Kampung Tengah di Larantuka Antusias Hias Kapela Sanjuan
Tradisi Sanjuan yang diikuti oleh tujuh kampung (lingkungan) utama.
Tujuh kampung yang terlibat dalam perayaan ini adalah Kampung Tengah, Gege, Lebao, Riang Nyiur, Tabali, Kota Sau dan Kota Rowido.
Setiap kampung memiliki peran dan kontribusi unik dalam pelaksanaan tradisi ini.
Tradisi Sanjuan yang diikuti oleh tujuh kampung (lingkungan) utama.
Tujuh kampung yang terlibat dalam perayaan ini adalah Kampung Tengah, Gege, Lebao, Riang Nyiur, Tabali, Kota Sau dan Kota Rowido.
Setiap kampung memiliki peran dan kontribusi unik dalam pelaksanaan tradisi ini.
Baca Juga: Niat Hentikan Tawuran, Berujung Dibui, Ini yang Dilakukan Oleh Pria Tersebut!
Rangkaian acara Sanjuan dimulai dengan misa suci di Gereja Paroki San Juan.
Umat berkumpul untuk berdoa dan memohon berkat, menandai dimulainya perayaan.
Setelah misa, prosesi berjalan kaki yang dipimpin oleh rohaniwan membawa patung Santo Yohanes Pembaptis mengelilingi kota.
Rangkaian acara Sanjuan dimulai dengan misa suci di Gereja Paroki San Juan.
Umat berkumpul untuk berdoa dan memohon berkat, menandai dimulainya perayaan.
Setelah misa, prosesi berjalan kaki yang dipimpin oleh rohaniwan membawa patung Santo Yohanes Pembaptis mengelilingi kota.
Baca Juga: Bawa Sajam Tanpa Ijin, Satreskrim Serahkan Tersangka ke Kejari Nabire, Papua
Prosesi ini disertai dengan lantunan doa dan nyanyian pujian yang menggema di sepanjang jalan.
Prosesi ini disertai dengan lantunan doa dan nyanyian pujian yang menggema di sepanjang jalan.
Dalam prosesi ini patung Yohanes Pembabtis diarak bersama Sakramen Mahakudus melewati 7 armida (tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan dan disembah) yang disiapkan oleh 7 lingkungan (kampung) yang ada di Paroki San Juan.
Tidak hanya aspek religius, Sanjuan juga menampilkan beragam kegiatan budaya.
Bagi masyarakat setempat, Kapela tak sekedar bangunan tempat umat berdoa, tapi kapela juga tempat seluruh aktivitas kerohanian dan kemasyarakatan yang terjadi dalam kampung itu.
Warga tujuh kampung ini dari sejarahnya adalah warga yang memiliki jaringan kekeluargaan satu dengan yang lain.
Melalui perayaan ini hubungan itu pun terjalin kembali.
Baca Juga: Jalan Tikus, Menjadi Jalur Penyelundupan Pakian Bekas dari Negara Timor Leste ke Kota Kupang
Setiap anak yang lahir dan dibesarkan dalam kampung-kampung di wilayah ini, sejak kecil sudah diperkenalkan akan pesta rakyat ini.
Setiap anak yang lahir dan dibesarkan dalam kampung-kampung di wilayah ini, sejak kecil sudah diperkenalkan akan pesta rakyat ini.
Saat perayaan San Juan tiba, warga diberi kesempatan untuk melayani Tuhan dengan mengambil tanggungjawab dalam urusan memperlancar jalannya prosesi.
Tak sampai di situ saja, perayaan ini mengajak setiap warga dan umat di wilayah ini untuk mengenang dan berdoa untuk para leluhur, menjalin kembali relasi persaudaraan karena konflik, dan bergembira bersama melalui perayaan makan bersama yang selalu diakhiri dengan tarian dan dolo-dolo.
Tak sampai di situ saja, perayaan ini mengajak setiap warga dan umat di wilayah ini untuk mengenang dan berdoa untuk para leluhur, menjalin kembali relasi persaudaraan karena konflik, dan bergembira bersama melalui perayaan makan bersama yang selalu diakhiri dengan tarian dan dolo-dolo.
Baca Juga: Oknum ASN Kemenkumham di Kupang Aniaya Warga, Dibekuk Polisi Usai Melakukan Kegiatan di Kantor Pengadilan Negeri
Akhir perayaan, umat kembali ke kampungnya masing-masing, dan merayakan kebersamaan mereka dengan makan malam bersama dan melanjutkannya dengan melakukan tarian dolo- dolo bersama.
Akhir perayaan, umat kembali ke kampungnya masing-masing, dan merayakan kebersamaan mereka dengan makan malam bersama dan melanjutkannya dengan melakukan tarian dolo- dolo bersama.
Usai perayaan masih ada lagi perayaan yakni serah punto dama atau penyerahan lilin yang menandai penyerahan tugas untuk tahun berikutnya.
Tradisi Sanjuan sekali lagi berhasil mempererat ikatan sosial dan spiritual di antara tujuh kampung di Larantuka, menciptakan harmoni yang indah antara budaya dan agama.
Penulis: Elen Labina