REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Menjelang perayaan Hari Yohanes Pembatis pelindung gereja Paroki Sanjuan, warga Kampung Tengah, Kelurahan Puken Tobiwangibao, Kecamtan Larantuka, di Flores Timur kembali menggelar tradisi Tikam Turo, sebuah ritual adat yang penuh makna dan kaya akan nilai budaya.
Tradisi ini, yang telah dilakukan secara turun-temurun, menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat setempat.
Tikam Turo merupakan tradisi umat Katolik Paroki Sanjuan, yang memasang pagar berbahan bambu dan kayu kukung di sepanjang lintasan prosesi atau perarakan arca Santu Yohanes Pembatis nanti.
Pagar-pagar ini disebut Turo dan tiang bamunya terlilit tali untuk dijadikan tempat menyalakan lilin saat prosesi.
Pantauan media ini, tampak ratusan umat kampung Tengah baik tua maupun muda, antusias membawa kayu, bambu dan kukung ke lorong Kapela dan lorong gereja Sanjuan.
Pesta pelindung Paroki Sanjuan sendiri diadakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada Santo pelindung paroki.
Baca Juga: Jelang Pesta Pelindung Paroki, Anak Muda Kampung Tengah di Larantuka Antusias Hias Kapela Sanjuan
Perayaan ini menjadi ajang bagi warga untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan, dan memperkuat rasa kebersamaan.
Dengan tetap melestarikan tradisi Tikam Turo, warga Kampung Tengah berharap generasi mendatang akan terus menjaga dan menghargai warisan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.
Sebuah harapan yang sederhana namun penuh makna, agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
Kisah Sejarah Sanjuan Di Larantuka Kabupaten Flores Timur
Dilansir media ini melalui tulisan Benjamin Tukan, San Juan- menjadi pesta rakyat sekaligus pesta iman yang berhubungan dengan perayaan Hari Yohanes Pembatis pelindung gereja.
Umat tujuh kampung memang merupakan warga yang punya hubungan kekeluargaan yang sangat dekat.
Di wilayah ini, awalnya terdapat sebuah korke (pusat ritual kepercayaan asli).
Tempatnya di Pusi Goa, lingkungan Lebao sekarang ini. Pada suatu masa terjadi gelombang imigrasi ke wilayah ini.
Orang-orang yang tinggal di pesisir pantai, membentuk perkampungan yang dikenal dengan nama Kampung Tengah dan Kampung Kota (Kota Sau dan Kota Rowidho).
Proses kawin mawin membawa perkembangan yang luar biasa dalam membentuk tujuh kampung di wilayah ini.
Baca Juga: Jalan Tikus, Menjadi Jalur Penyelundupan Pakian Bekas dari Negara Timor Leste ke Kota Kupang
Sebelum menjadi paroki, tujuh kampung ini menjadi satu stasi dari paroki Reinha Rosari Larantuka.
Bahkan dahulu kala, stasi ini pernah menjadi bagian wilayah paroki Ignatius Waibalun, dan mendapat pelayanan iman dari Wureh, kampung seberang di pulau Adonara.
Pada tanggal 24 Juni 1903 merupakan awal dari prosesi San Juan.
Prosesi ini hanya berlangsung di seputaran kapela.
Baru pada tahun 1913, atas kesepakatan umat Kampung Tengah dan Kota Sau, jalannya prosesi berlangsung hingga Kota Sau.
Pada tahun 1936, Pater Eben SVD, bersama Bapak Sandore Baon mulai menggerakan umat untuk mulai pembangunan gereja.
Kurang lebih 120 kepala keluarga bahu membahu membangun gereja. Pada 1938 gereja selesai dibangun dan diresmikan.
Setelah gereja diresmikan, Pater Eben mengadakan prosesi Sakramen Maha Kudus bersamaan dengan prosesi San Juan yang membawa Patung Yohanes Pemandi.
Rute Prosesi menyinggahi lima armida yakni, Armida Kampung Tengah, Lebao, Riang Nyiur, Tabali dan Kota Sau.
Baca Juga: Jalan Tikus, Menjadi Jalur Penyelundupan Pakian Bekas dari Negara Timor Leste ke Kota Kupang
Saat pengresmian, sudah mulai diadakan upacara "Tukar Rengki" atau saling menukarkan persembahan makanan diantara warga kampung. Gereja Lebao Tengah baru resmi menjadi paroki tahun 1951 dengan pastor paroki yang pertama P. Yan Van Asten, SVD.
Di Paroki ini ada dua Patung Yohanes Pembabtis.
Patung Yohanes Pembatis yang tersimpan di gereja adalah patung pelindung paroki.
Tapi satunya lagi ada di Kapela Kampung Tengah.
Kisah Patung Yohanes Pembatis di Kampung Tengah umumnya sama dengan beberapa Patung peninggalan Portugis yang ada di Larantuka, yakni terbawa hanyut dan terdampar di pantai wilayah Larantuka.
Menurut ceritra, Patung Yohanes Pemandi ditemukan di pantai di Kampung Tengah, yang kemudian menjadi milik Dominggo Fernandez dan Djuan Labina.
Patung ini menjadi patung kramat, sama seperti patung-patung lain yang ada di kapela dalam wilayah tujuh kampung.
Kendati perayaan ini tak semeriah perayaan prosesi Jumat Agung di Larantuka, Konga dan Wureh, dari sejarah dan tradisi sebenarnya perayaan ini dapat disejajarkan dengan perayaan tradisi keagamaan lain yang ada di wilayah ini.
Dari segi patung-patung peninggalan tempo dulu, kapela-kapela yang ada di Paroki San Juan menyimpan juga berbagai patung peninggalan.
Selain di Kampung Tengah, di Kota Rohwido, tersimpan patung Tuan Meninu yang menjadi bagian penting dalam perayaan prosesi Jumat Agung di Larantuka, Di Kota Sau ada patung Antonius Padua.
Di Gege, dalam kapela Nozsa Senhora tersimpan beberapa patung peninggalan. Raja Larantuka Raja Andre DVG II pada masanya punya perhatian akan penataan patung-patung di wilayah ini.
Penulis: Elen Labina
Artikel Terkait
Seorang Pria Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Kos, Polisi Lakukan Olah TKP dan Evakuasi Jasad Korban
Bawa Sajam Tanpa Ijin, Satreskrim Serahkan Tersangka keĀ Kejari Nabire, Papua
Niat Hentikan Tawuran, Berujung Dibui, Ini yang Dilakukan Oleh Pria Tersebut!
Jelang Pesta Pelindung Paroki, Anak Muda Kampung Tengah di Larantuka Antusias Hias Kapela Sanjuan
Direktorat KMA Gelar SLKL di Desa Bungalawan, Ile Boleng