Rumah Sri Mulyani Dijarah Massa, Menteri Keuangan Sampaikan Pesan Menyentuh Lewat Instagram

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Senin, 1 September 2025 | 09:38 WIB
Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI.
Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI.

 

 

REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Rumah Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati di kawasan Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan, sempat dijarah ratusan orang tak dikenal saat aksi ricuh Minggu dini hari (31/8/2025).

Sejumlah fasilitas di sekitar kediaman mengalami kerusakan akibat penjarahan.

Pantauan melalui video yang beredar di plafon media sosial, Minggu siang menunjukkan situasi di rumah Sri Mulyani sudah berangsur kondusif.



Baca Juga: PELNI Sesuaikan Tarif Layanan Tambahan SeaPremium Mulai 1 September 2025

Personel TNI Angkatan Darat bersenjata lengkap tampak berjaga ketat di depan rumah maupun area sekitar lokasi.

Di tengah insiden tersebut, Sri Mulyani menyampaikan pesan menyejukkan melalui akun Instagram pribadinya, @smindrawati.

Ia menyampaikan rasa terima kasih atas simpati, doa, serta dukungan moral yang diberikan masyarakat.

Baca Juga: Harta Fantastis, Rumah Dijarah, Kursi DPR Dicopot

“Saya memahami membangun Indonesia adalah sebuah perjuangan yang tidak mudah, terjal, dan sering berbahaya. Para pendahulu kita telah melalui itu. Politik adalah perjuangan bersama untuk tujuan mulia kolektif bangsa, tetap dengan etika dan moralitas yang luhur,” tulis Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan dirinya mengemban tugas negara berdasarkan sumpah jabatan untuk menjalankan UUD 1945 dan seluruh undang-undang.

Ia menekankan, jika publik merasa hak konstitusinya dilanggar, tersedia mekanisme konstitusional seperti judicial review ke Mahkamah Konstitusi maupun jalur peradilan hingga Mahkamah Agung.

Baca Juga: Penjarahan Kediaman Sri Mulyani: Dari Aba-aba Kembang Api hingga Evakuasi Barang

Sri Mulyani juga mengungkapkan tugas negara harus dijalankan dengan amanah, kejujuran, integritas, serta profesionalisme. Menurutnya, demokrasi Indonesia masih belum sempurna, tetapi harus terus diperbaiki secara beradab, bukan melalui anarki, intimidasi, maupun represi.

“Tugas tidak mudah dan sangat kompleks, memerlukan wisdom, empati, kepekaan mendengar, dan memahami suara masyarakat. Karena ini menyangkut nasib rakyat Indonesia dan masa depan bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X