Kericuhan Aksi Gen Z Nepal, BEM UI Ingatkan Indonesia: Amarah Publik Itu Bom Waktu

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Jumat, 12 September 2025 | 19:00 WIB
Ketua BEM UI, Agus Setiawan.
Ketua BEM UI, Agus Setiawan.



 
 
 
REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Kericuhan mewarnai aksi demonstrasi di Kathmandu, Nepal, Rabu, 10 September 2025.
 
 
 
Aksi yang dimotori generasi muda atau Gen Z itu pecah menjadi kekacauan setelah massa meluapkan kekecewaan terhadap pejabat pemerintah yang dituding gemar korupsi sekaligus pamer harta di media sosial.
 


Fenomena tersebut sontak jadi sorotan lintas negara.
 
 
 
 
 
Di Indonesia, gerakan Gen Z Nepal menarik atensi publik, apalagi Tanah Air baru saja dilanda gelombang demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025 lalu.
 


Ketua BEM Universitas Indonesia, Agus Setiawan, menilai ada kemiripan antara tuntutan pemuda Nepal dan situasi di Indonesia.
 
 
 
 
“Kalau menurut saya, tuntutan demonstrasi yang terjadi di Nepal itu hampir mirip dengan yang terjadi di Indonesia,” ujar Agus dalam program Kontroversi di kanal YouTube Metro TV, Kamis, 11 September 2025.
 
 
 
 
 


Agus menjelaskan, sebelum demonstrasi besar meletus, kondisi ekonomi Nepal sudah memburuk.
 
 
 
 
Lapangan kerja kian terbatas, membuat generasi muda dilanda kecemasan soal masa depan.
 
 
 
Situasi itu diperparah perilaku korupsi yang berulang di tubuh pemerintahan.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
“Kemarahan anak muda di Nepal itu bentuk akumulasi kekecewaan terhadap pola penyelenggaraan negara,” katanya.
 
 
 


Ia memperingatkan, Indonesia bisa saja mengalami hal serupa bila pejabat dan institusi negara terus abai.
 
 
 
DPR, pemerintah, TNI-Polri, hingga partai politik, menurut Agus, mesti menunjukkan itikad baik untuk berbenah.
 
 
 
 
 
 
 
 
“Saya rasa Indonesia sedikit lagi bisa berada di titik itu, kalau hari ini tidak ada keseriusan untuk berbenah diri,” ujarnya.
 


Agus juga menekankan pentingnya respons yang tepat atas amarah publik. Baginya, meredakan kemarahan rakyat tidak cukup dengan langkah sementara.
 
 
 
 
“Yang namanya amarah publik itu harus diredam dengan menuntaskan akar masalahnya, bukan cuma ‘dikipas-kipaskan asapnya’ untuk sementara waktu,” ucapnya.
 
 
 
 
 
 


Ia menutup dengan peringatan keras. Jika pola lama terus dipertahankan, Indonesia berpotensi menghadapi ledakan sosial yang tak terhindarkan.
 
 
 
“Pada akhirnya amarah publik akan menjadi bom waktu,” kata Ketua BEM UI itu.

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X