REPORTASENTT.COM, SOLOR- Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen meninjau perkebunan milik kelompok tani di Desa Lewograrang, Kecamatan Solor Selatan, Jumat (12/9/2025).
Dalam kunjungan itu, ia mendorong agar desa mampu menjadi produsen pangan untuk memenuhi kebutuhan lokal sekaligus mendukung program prioritas pemerintah daerah.
Kunjungan dilakukan usai rapat koordinasi bersama camat, kepala desa, dan pengelola BUMDes se-Kepulauan Solor.
Rapat membahas sinergi program pembangunan, termasuk Makanan Bergizi Gratis (MBG), penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta program Big Push yang menjadi terobosan Pemkab Flores Timur.
“Dengan MBG, desa memiliki peluang besar untuk menyediakan suplai bahan pangan dari hasil perkebunan mereka sendiri. Ini yang kita dorong supaya desa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen,” kata Doni Dihen.
Hasil Panen dan Tantangan
Di lahan kelompok tani, sejumlah bedeng ditanami bayam, kangkung, tomat, dan sawi.
Sebagian sudah siap panen, sementara lainnya masih dalam tahap pertumbuhan.
Mikael Noe Uran, salah satu anggota kelompok tani, menyebut mereka sudah empat kali panen.
“Awalnya kami beli sendiri bibitnya. Kalau sawi, satu bulan sudah bisa panen. Kangkung sekitar tiga minggu,” ujarnya.
Rekan Mikael, Yohanes Nebo Lamen, menambahkan setiap kali panen kelompok memperoleh rata-rata Rp200 ribu per bedeng, tergantung luas lahan.
Namun, kendala utama yang dihadapi petani adalah pasokan air.
Seluruh lahan hanya bergantung pada satu sumur bor yang dibagi ke 10 jalur.
“Sebenarnya bedeng bisa tambah lagi, tapi airnya masih kurang. Itu yang susah,” kata Mikael.
Pasar Tersedia, Konsumsi Lokal Minim
Meski pasokan air terbatas, hasil kebun kelompok tani Lewograrang cukup diminati pembeli dari desa sekitar, seperti Lohayong.
Para pembeli kerap datang langsung ke kebun.
Hanya saja, warga Lewograrang sendiri disebut masih kurang berminat mengonsumsi sayuran lokal.
Bupati Doni menilai upaya sederhana petani Lewograrang menjadi pondasi penting dalam membangun kemandirian pangan daerah.
“Seperti tanaman yang tumbuh, semuanya dimulai dari hal kecil. Dari situ kita rawat, kita besarkan, sampai menjadi kuat dan tangguh,” ucapnya.
Langkah kelompok tani di Lewograrang, menurut Doni, menjadi contoh bahwa ketika desa diberi ruang dan dukungan, peluang ekonomi masyarakat dapat terbuka lebar.
Artikel Terkait
Polda NTT Bentuk Tim Investigasi, Usut Dugaan Kekerasan Polisi di Rote Ndao
BCA Tegaskan Dana Nasabah Aman, Skandal Bobol RDN Rp70 Miliar Diduga Terjadi di Anak Usaha Sekuritas
Warung Nabas Kawan Baru Dibobol Bertahun-tahun, Polisi Bekuk Pelaku di Kupang
Polresta Kupang Limpahkan Kasus Kekerasan Seksual Angkot Fatukoa ke Kejaksaan
Ayah Korban Pemerkosaan di Adonara Desak Hukuman Maksimal bagi Pelaku