Lewo Belle Lama Tuka, Jejak Peradaban Lamaholot yang Tersisa di Lembata

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Senin, 12 Mei 2025 | 10:47 WIB
Inilah pemandangan alam desa Bani Tobo (Foto/ Bernad Nara Gere )
Inilah pemandangan alam desa Bani Tobo (Foto/ Bernad Nara Gere )

 

REPORTASENTT.COM, LEMBATA- Lewo Belle Lama Tuka, sebuah kawasan perkampungan tua di Desa Bani Tobo, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan peradaban masyarakat Lamaholot.

Enam kampung yang membentuk kawasan ini, Hida Labi, Lebelang, Bese’ei, Benalar, Dangalangun, dan Ilo Wutun, menyimpan narasi panjang tentang akar budaya, iman, dan cobaan alam yang pernah mengguncang wilayah tersebut.

Salah satu jejak bersejarah yang masih tersisa adalah keberadaan Gereja Nuba, yang menurut penuturan masyarakat setempat, dibangun pada tahun 1400 oleh seorang pastor asal Belanda bernama Mgr. Vanderleur.

Baca Juga: Proyek Sumur Bor Solor Tuai Sorotan, Kadis Pertanian Flotim Klarifikasi Isu Intervensi

Uniknya, altar gereja tersebut dibuat dari batu besar alami yang seolah telah dipersiapkan oleh alam, seperti menyambut kehadiran sang pastor dalam misi penyebaran iman Katolik kala itu.

"Altarnya dari batu besar. Kami percaya, Santo Petrus sendiri telah menandai tempat ini," ujar Gadu, warga setempat yang kini dikenal sebagai sesepuh kampung.

Seiring waktu, enam kampung tersebut berkembang menjadi basis pertanian dan perkebunan rakyat.

Baca Juga: Mau Ijab Kabul, Pengantin Ini Tiba- tiba Diserang di Depan Mobil Pengantin! Motifnya Mengejutkan

Kemiri dan kelapa menjadi komoditas unggulan yang hingga kini masih diandalkan masyarakat sebagai sumber penghidupan.

Namun, semua berubah drastis pada tahun 1979, ketika bencana alam besar menghantam kawasan ini.

Dikenal sebagai Bencana Waiteba, peristiwa tersebut terjadi dua kali dalam sebulan, yakni pada awal tahun dan pada 27 Februari 1979.

Baca Juga: Operasi Malam Polres Ende: Premanisme Dibongkar, Jalanan Jadi Target Utama

Peristiwa tragis itu menjadi momen eksodus besar-besaran masyarakat ke daerah lain seperti Ile Ape, Solor, Adonara, hingga Boru Hokeng di Flores Timur.

“Saat itu, kami sedang merayakan pesta kampung dengan tarian ‘Solle’ atau ‘Tandak’.
Tidak ada yang selamat karena tsunami datang tiba-tiba. Seolah kampung ini diluluhlantakkan dalam sekejap,” kenang Gadu dengan mata berkaca.

Bencana serupa yang terjadi di Larantuka pada tanggal yang sama menimbulkan berbagai spekulasi dan pertanyaan spiritual.

Baca Juga: TNKB Khusus DPR Bukan untuk Gaya- gayaan, MKD: Ini Bentuk Pengawasan Publik

“Apakah ini murka alam, pelanggaran manusia, atau kesalahan mistis seperti pertukaran tongkat kerajaan dengan tempurung emas milik Raja Larantuka? Kami tidak tahu,” tambahnya lirih.

Halaman:

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X