Sementara itu, Tenunin sebagai organisasi mitra mendorong penguatan kapasitas perajin lokal melalui pengembangan ekosistem tenun yang berkelanjutan.
Acara peresmian turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Sumba Timur Marolop Simanjuntak, perwakilan Dinas Pendidikan Sumba Timur Imanuel Takanjanji, Camat Umalulu Umbu Weki, serta Kepala Desa Watuhadang Richard bersama masyarakat Kampung Raja Pao.
Baca Juga: Prabowo Dorong Sinergi Kampus dan PT PAL Perkuat Industri Perkapalan Nasional
Sumba Weaving Museum tidak hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan koleksi kain, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran budaya yang mempertemukan penenun dengan pengunjung.
Museum ini menjadi ruang interaksi untuk mengenalkan sejarah, teknik, dan makna filosofis di balik kain tenun Sumba.
Melalui keberadaan museum tersebut, masyarakat Kampung Raja Pao memperoleh ruang baru untuk memperkenalkan karya mereka sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi menenun.
Peresmian Sumba Weaving Museum menjadi langkah baru dalam memperkuat pelestarian warisan budaya Sumba Timur melalui peran masyarakat lokal.
Insan Bumi Mandiri (IBM), lembaga filantropi yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat pedalaman Indonesia sejak 2016, menjadi salah satu pihak yang mendukung pengembangan program berbasis komunitas.
Melalui perjalanan pemberdayaan tersebut, Tenunin kemudian berkembang sebagai perusahaan sosial yang menghubungkan pelestarian tenun dengan ekosistem bisnis berkelanjutan bagi perajin lokal.
keberlanjutan lingkungan.
Artikel Terkait
Skandal MBG Membesar di Era Dadan Hindayana, Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Dugaan Korupsi
Anggota TNI Prada Arif Budiman Tewas Ditikam, Berawal dari Cekcok Antrean Sate Taichan
Nyaris Terbang ke Malaysia, 5 Calon Pekerja Migran Diduga Korban TPPO Diamankan Polda NTT
Massa Konvoi Diduga Lempari Rumah Warga di TTS, Polisi Selidiki Perusakan 32 Rumah
Konflik Adonara Berpeluang Mereda, Tokoh Adat Siapkan Forum Perdamaian