Simbol Watodiri dan Pohon Ara di Lamaholot: Legenda Tentang Cinta, Perang, dan Kutukan

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Selasa, 6 Mei 2025 | 20:01 WIB
Batu berdiri atau Watodiri yang berada di Desa Watodiri sebagai salah satu obyek wisata budaya di desa Watodiri. (Foto/ Bernad Nara Gere)
Batu berdiri atau Watodiri yang berada di Desa Watodiri sebagai salah satu obyek wisata budaya di desa Watodiri. (Foto/ Bernad Nara Gere)

 

REPORTASENTT.COM-  Sebuah legenda tua yang telah lama hidup dalam masyarakat Lamaholot kembali mencuat ke permukaan. Cerita rakyat yang dikenal dengan nama Watodiri atau batu berdiri, dipercaya sebagai simbol cinta dan pengorbanan seorang ibu yang menggendong anaknya dalam peristiwa tragis di masa lalu.

Kisah ini disampaikan oleh Yohanes Enga, tokoh masyarakat sekaligus budayawan muda asal Desa Muruone, Kecamatan Ile Ape.

Kepada Reportase NTT, Yohanes menuturkan bahwa batu berdiri tersebut diyakini sebagai perwujudan seorang ibu, sedangkan suaminya berubah menjadi pohon Ara, pohon tuak yang konon mengeluarkan darah jika diiris, bukan nira sebagaimana umumnya.

Baca Juga: Wapres Gibran Rakabuming Kunjungi SMAS Bhaktyarsa di Kabupaten Sikka, Serahkan Bantuan Pendidikan

Legenda ini berasal dari suku Lama Tuka yang kini menetap di wilayah Hadakewa dan Lewo Hala, Desa Lama Riang, Kecamatan Ile Ape.

Cerita mereka menyatu dengan sejarah panjang dan berdarah dari kawasan ini, termasuk konflik antarsuku yang masih diingat generasi tua.

Dari Watodiri ke Jejak Perang Saudara

Latar sejarah legenda Watodiri tak bisa dilepaskan dari kisah lama tentang konflik antara klen Demon dan Paji.

Menurut tradisi lisan, wilayah Lewo Hala, yang dahulu dikenal sebagai Lolon Melu Tanah Wurin Lama Bura, pernah berada di bawah kepemimpinan tokoh adat Sibeni Bulu Tiwan bersama istrinya Pekewae Holo Mengi.

Ketika klen Paji datang ke wilayah yang didiami klen Demon, konflik besar pecah dan memicu perang saudara.

Baca Juga: Bawa Misi Spesifik, Komisi XI DPR RI 'Turun Gunung' ke Labuan Bajo!

Pertempuran sengit itu akhirnya dimenangkan oleh klen Paji.

Akibat kekalahan tersebut, banyak warga Demon bermigrasi ke Desa Kwella, Atade'i, hingga wilayah Merdeka. Di sana, mereka mendirikan Sekolah Menengah Tujuh Maret.

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X