TRC Belum Optimal, BPBD Flotim Minta Warga Tetap Waspada Banjir Rob

Photo Author
Paulina Labina, Reportase NTT
- Selasa, 2 Desember 2025 | 18:41 WIB
Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur. (Foto/ Elen Labina)
Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur. (Foto/ Elen Labina)




 
 
REPORTASENTT.COM, LARANTUKA-  Menjelang akhir 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur mengingatkan warga untuk waspada potensi banjir rob yang diperkirakan meningkat seiring masuknya musim hujan.


Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Flores Timur, Yohanes B. Polen Hayon, mengatakan wilayah dengan risiko tertinggi berada di Adonara Barat, berdasarkan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB).
 
Sejumlah desa masuk kategori merah, seperti Adonara, Waiwadan, dan Duanur.
 
 


“Banjir rob biasanya dipicu angin kencang dan gelombang tinggi yang menerjang pesisir. Ini ancaman serius bagi warga di wilayah pantai,” kata Yohanes saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/12/2025).


Selain Adonara, kawasan pesisir Solor juga disebut memiliki potensi serupa.
 
 
Desa Menanga, Lohayong, dan Lamakera kerap menghadapi ancaman banjir rob, meski di Lamakera sudah dibangun talut pengaman pantai sebagai langkah mitigasi.
 
 


Ancaman banjir rob juga menyasar wilayah daratan.
 
Daerah di sekitar Lewolema dan Ile Mandiri, termasuk Desa Halakodanuan sampai Weri, terutama Dusun Delang di Desa Tiwatobi, dinilai berisiko tinggi.
 
 
Bahkan Delang disebut berpotensi terdampak tsunami bila terjadi gempa bersamaan dengan curah hujan tinggi.
 
 


“Ancaman tsunami di Delang bisa terjadi jika gempa besar melanda saat musim hujan. Peringatan dini sudah kami sampaikan ke para camat,” ujarnya.


Yohanes menambahkan, BPBD telah mengirim dokumen peringatan dini dan informasi kebencanaan ke para camat melalui WhatsApp untuk diteruskan kepada kepala desa.
 
 
Dokumen tersebut menjadi acuan agar masyarakat bisa bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
 
 


Namun, ia mengakui Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Flores Timur belum bekerja optimal. Kendalanya ada pada minimnya kapasitas dan pelatihan yang baru berlangsung sebagian.


“TRC masih terbatas. Pelatihannya belum lengkap, jadi belum bisa bergerak maksimal,” kata Yohanes.


Meski demikian, beberapa desa sudah memiliki Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) dan Kampung Siaga Bencana (KSB) bentukan Kementerian Sosial.
 
 
Komunikasi antar-tim difasilitasi melalui grup WhatsApp ‘Salam Tangguh’ sebagai kanal penyebaran informasi cepat.


Yohanes meminta para camat dan kepala desa meningkatkan kewaspadaan, terutama menghadapi cuaca ekstrem dan potensi banjir rob.
 
 
Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat.
 
Baca Juga: Duel Panas di 8 Besar Piala Gubernur Liga 4 ETMC XXXIV 2025: PS Malaka Unggul Sementara 3-2 atas Bajak Laut Labuan Bajo

“Jangan panik, tapi tetap waspada. Semua pihak harus bekerja sama agar dampak bencana bisa diminimalkan,” pungkasnya.

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X