Jika konsisten, total produksi jagung hibrida dalam setahun diproyeksikan mencapai 10 hingga 12 ton.
Menurut Petrus, kelompoknya juga berencana memperluas lahan garapan dari 1,5 hektare menjadi 2 hektare.
Selain jagung hibrida, petani akan menanam semangka, pepaya California, serta aneka sayuran.
Baca Juga: Di-PHK di Bandung, Dipaksa Gugat ke Papua: Dodi Uji Pasal 81 UU PPHI ke Mahkamah Konstitusi
“Kami ingin lahan ini tidak hanya menghasilkan jagung, tetapi juga buah dan sayur untuk mendukung kebutuhan pangan di Lembata, termasuk program Makan Bergizi Gratis,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pertanian memberi perhatian terhadap pengembangan kelompok tani tersebut, terutama dalam mendukung perluasan lahan dan diversifikasi tanaman.
Dengan tambahan luas lahan dan dua kali masa panen dalam satu siklus, Kelompok Tani Pondok Daun menargetkan produksi jagung hibrida bisa menembus 12 ton per tahun sebagai kontribusi terhadap ketahanan pangan daerah.
Artikel Terkait
Serah Terima Dirut RSUP Ben Mboy Kupang, Ombudsman NTT Tekankan Evaluasi dan Reformasi Pelayanan
Di-PHK di Bandung, Dipaksa Gugat ke Papua: Dodi Uji Pasal 81 UU PPHI ke Mahkamah Konstitusi
Dari Sampah Sachet ke Dinding Pabrik: Eksperimen Content creator Jerhemy Owen dan Jejak Bisnis Papan Daur Ulang
Motor Hilang Dua Kali, Rio Aztin Temukan Sendiri Usai Lacak Sinyal GPS
Ombudsman NTT Warning Praktik Pungutan PIP, Masyarakat Diminta Aktif Melapor