REPORTASENTT.COM, ADONARA- Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur selama ini dikenal dengan keindahan alam dan ragam budaya yang khas.
Namun di balik pesona tersebut, masih melekat stigma negatif yang menyebut Adonara sebagai “pulau pembun*h”, sebuah anggapan keliru yang terus diwariskan dari sudut pandang luar.
Menghapus label negatif tersebut kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi generasi muda Adonara.
Sebagai salah satu upaya, masyarakat membentuk kelompok sanggar budaya “Baran Tawan Adonara”.
Komunitas ini menjadi wadah bagi warga untuk menghidupkan kembali tradisi dan nilai kultural melalui pagelaran seni keliling desa.
“Tujuan kami sederhana, bagaimana seni bisa menjadi alat pemersatu dan mencegah terjadinya konflik di wilayah ini,” ujar salah satu pegiat budaya setempat.
Baca Juga: PELNI Larantuka Dukung Usaha Lokal Lewat Canvasing dan Layanan Logistik
Dalam sebuah diskusi terbatas antara pelaku budaya dan Menteri Kebudayaan, isu pelestarian tradisi lokal kembali mengemuka.
Mikhael Boro Bebe, salah satu tokoh budaya Lamaholot, menyoroti pentingnya pelestarian budaya tutur yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
“Budaya tutur kita punya banyak versi, dan bila tidak segera dibukukan, bisa terjadi bias sejarah atau bahkan konspirasi penuturan budaya Lamaholot. Kami juga berharap ada perhatian khusus dalam riset kebudayaan perempuan dan revitalisasi ritus-ritus yang nyaris punah,” ungkap Mikhael.
Artikel Terkait
Anggota Polres Sikka Divonis 9 Tahun Penjara dalam Kasus Laka Lantas Maut
Peti Jenazah Paus Fransiskus Akan Disegel Malam Ini, Pemakaman Digelar Besok
Sambut Semana Santa, PELNI Larantuka Gelar Kerja Bakti Bersama
PELNI Larantuka Dukung Usaha Lokal Lewat Canvasing dan Layanan Logistik
Dialog Budaya di Adonara, Masyarakat Soroti Pelestarian Desa: Mendikbud Fadil Zon Janji Anggaran Khusus