Bangga Lembata! Muruone Hadirkan Kekayaan Mangrove Nusantara dalam Satu Kawasan

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Rabu, 21 Mei 2025 | 08:21 WIB
Hutan bakau di Desa Muruone, Kecamatan Wulandoni (Foto Bernad)
Hutan bakau di Desa Muruone, Kecamatan Wulandoni (Foto Bernad)

 

REPORTASENTT.COM, LEMBATA- Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali menambah daftar destinasi wisatanya yang patut dikunjungi.

Kali ini, giliran hutan bakau di Desa Muruone, Kecamatan Ile Ape, yang mulai diperkenalkan sebagai obyek wisata alam dan budaya oleh salah satu pengusaha lokal, Erna Ruing.

Erna Ruing, seorang entrepreneur asal Lembata, menaruh perhatian besar pada potensi lokal yang belum tergarap maksimal.

Baca Juga: Ramai Video TikTok 'Kapok ke Sini' di Sumba Barat Daya, Polisi Turun Tangan: Ini Faktanya!

Ia menyebut bahwa kawasan hutan bakau di Desa Muruone memiliki nilai ekologis sekaligus budaya yang penting untuk dikembangkan dalam paket wisata berbasis kearifan lokal.

"Masih banyak potensi wisata bersejarah dan budaya di Lembata yang belum tersentuh. Padahal, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, masyarakat desa bisa membangun dengan potensi yang mereka miliki," kata Erna dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (21/5/2025).

Menurutnya, kebijakan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di bawah pimpinan Drs. Fadli Zon mendukung penuh pembangunan desa berbasis budaya.

Baca Juga: Akhirnya Terbongkar! Uang Miliaran Raib dari RSUD Ende, Sosok FM Jadi Tersangka- Cuma Rp 67 Juta yang Tersisa!

Bahkan, pemerintah pusat telah menyiapkan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari APBN untuk mendukung pengembangan desa wisata.

Hutan mangrove di Desa Muruone menjadi contoh nyata potensi yang bisa dikembangkan.

Uniknya, kawasan ini memiliki delapan jenis mangrove berbeda yang biasa ditemukan tersebar di berbagai pulau besar Nusantara.


Baca Juga: Pencurian Siang Bolong di Sikumana, Siapa Sosok HU yang Ditangkap Polisi?

Namun, di Muruone, semuanya bisa dijumpai dalam satu wilayah yang mudah dijangkau.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Muruone, Fransiskus Asan Lama Taro, menuturkan bahwa kawasan mangrove ini merupakan aset penting yang selama ini dijaga oleh masyarakat secara turun-temurun.

Hutan bakau di Desa Muruone, Kecamatan Wulandoni. (Tarwan foto Bernad)

"Hutan bakau ini bukan hanya kekayaan alam, tapi juga warisan leluhur. Kami merasa memiliki tanggung jawab untuk merawatnya," ujar Fransiskus dengan semangat.


Baca Juga: Bongkar Aksi Remaja Nekat! 14 Kali Bobol Undana, Jual Fasilitas Kuliah ke Tukang Besi

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X