Warga Muruone Lestarikan Tradisi Pembuatan Garam Secara Tradisional di Lembata

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 06:31 WIB
 Veronika Lipa, Warga Desa Muruone, Kecamatan Ile Ape, (Foto Bernad Nara Gere )
Veronika Lipa, Warga Desa Muruone, Kecamatan Ile Ape, (Foto Bernad Nara Gere )

 

REPORTASENTT.COM, LEMBATA- Warga Desa Muruone, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih mempertahankan tradisi turun-temurun dalam memproduksi garam secara tradisional.

Proses ini dilakukan tanpa bantuan bahan kimia atau mesin modern, hanya mengandalkan alam dan kearifan lokal.

Pembuatan garam dilakukan dengan menggunakan tanah yang memiliki kadar garam tinggi serta air laut.

Baca Juga: BKN Umumkan Penyesuaian Jadwal Seleksi PPPK Tahap II Tahun 2024

Aktivitas ini hanya dilakukan saat cuaca cerah dan kondisi tanah benar-benar kering.

Salah satu warga, Veronika Lipa, menjelaskan bahwa tanah asin tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung, yang berfungsi sebagai penyaring alami.

Air laut kemudian disiram perlahan ke dalam karung tersebut.


Baca Juga: BNPB Putuskan Evakuasi Warga dalam Radius 7 Km: Relokasi Permanen Segera Dibangun!

"Air laut akan melarutkan kandungan garam dalam tanah, dan tetesannya ditampung dalam wadah seperti baskom atau ember," ujar Veronika saat ditemui di kediamannya, Jumat (24/5/2025).

Tetesan air garam tersebut selanjutnya dipindahkan ke dalam kuali besar yang diletakkan di atas tungku api.

Dengan api yang dijaga agar tetap stabil, air garam diuapkan hingga menyisakan endapan kristal garam.


Baca Juga: Akhirnya Bicara! Jokowi Buka Suara Usai Bareskrim Nyatakan Ijazah Asli, Ini Bukti yang Dibeberkan

Setelah mengeras, garam yang dihasilkan dipindahkan ke wadah tradisional yang terbuat dari daun lontar, dikenal oleh warga setempat dengan sebutan Nome.

Di dalam Nome, sisa air akan menetes perlahan hingga garam benar-benar kering dan siap digunakan.

Veronika mengatakan, garam hasil produksi warga Muruone tidak hanya alami dan sehat, tetapi juga sarat akan nilai budaya dan filosofi hidup masyarakat setempat.

Baca Juga: Menteri PKP Turun Tangan, Konsumen Meikarta Akhirnya Dapat Harapan Baru

"Ini bukan sekedar soal garam. Ini tentang ketekunan, kesabaran, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam," katanya.

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X