Saat itu, pulau-pulau besar seperti Misool, Salawati, Waigeo, dan Batanta masih menyatu membentuk daratan besar.
Baca Juga: Nikita Mirzani Resmi Ditahan di Rutan Pondok Bambu, Terseret Kasus Pemerasan Rp4 Miliar!
Sekitar 3.500 tahun lalu, komunitas pembuat gerabah muncul, dipercaya membawa serta bahasa Austronesia yang menjadi dasar banyak bahasa di Indonesia timur.
Dari Kisah Cinta ke Politik Kerajaan
Masuknya Islam ke wilayah ini tak lepas dari pengaruh Kesultanan Bacan dan Tidore pada abad ke-15.
Salah satu tokoh kunci adalah Gurabesi, seorang pemimpin dari Biak, yang menikah dengan putri Sultan Tidore, Boki Tabai.
Dari pernikahan ini lahirlah aliansi politik, Tidore mengangkat Gurabesi sebagai pemimpin, dan empat raja lokal ditetapkan memerintah pulau-pulau.
Baca Juga: Trump Ancam Elon Musk: Siap- siap Hadapi Konsekuensi Serius Jika Dukung Demokrat!
Selama berabad-abad, Raja Ampat berada di bawah pengaruh Tidore, bahkan membayar upeti hingga masa kolonial Belanda.
Setelah kemerdekaan, wilayah ini resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Suku- suku Asli dan Jejak Migrasi
Penduduk asli Raja Ampat adalah suku Ma’ya, yang terbagi menjadi berbagai sub-suku seperti Kawe, Ambel, Matbat, Laganyan, dan Misool.
Selain itu, migrasi dari Biak-Numfor, Ternate, Tidore, Seram, hingga Halmahera memperkaya komposisi masyarakat lokal.
Mereka hidup berdampingan dan telah berbaur dalam budaya dan adat istiadat.
Baca Juga: Nasi Goreng Jadi Tanda! Ganjar Ungkap Isyarat Pertemuan Megawati- Prabowo
Laut Sebagai Nadi Kehidupan
Dahulu menggantungkan hidup dari hutan, kini laut menjadi sumber utama penghidupan masyarakat Raja Ampat.
Mereka hidup sebagai nelayan, pengumpul rumput laut, dan pengolah hasil laut lainnya.