REPORTASENTT.COM, ADONARA- Gempa dangkal mengguncang wilayah Kabupaten Flores Timur sejak Rabu (8/4) malam hingga Kamis (9/4) dini hari, dengan pusat di laut sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka. Getaran terkuat dirasakan di Pulau Adonara dan Pulau Solor, terutama Desa Terong dan Lamahala Jaya.
Data BMKG mencatat magnitudo 4,6 hingga 4,7 pada kedalaman sekitar lima kilometer, disertai puluhan gempa susulan tanpa potensi tsunami.
Kerusakan paling parah terjadi di Kecamatan Adonara Timur, khususnya Desa Terong dan Lamahala Jaya. Sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan berat, mulai dari plafon runtuh, dinding roboh, hingga atap ambruk.
Baca Juga: Polisi Mediasi Kasus Guru Aniaya Dua Siswa di Kupang, Berakhir Damai
Puing bangunan ditemukan di ruang tidur, dapur, hingga ruang kelas sekolah, mengganggu aktivitas warga secara signifikan.
Pendataan terbaru BPBD Flores Timur mencatat lima desa terdampak, yakni Terong, Lamahala Jaya, Dawataa, Karing Lamalouk, dan Motonwutun. Sebanyak 215 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi, termasuk fasilitas umum di beberapa lokasi.
Sekitar 1.100 jiwa terdampak memilih mengungsi mandiri ke lokasi yang dinilai lebih aman.
Baca Juga: Jejak Foto Ungkap Curanmor RSU Leona: Mahasiswa Semester Akhir Dibekuk di Baumata Barat
Kepala Pelaksana BPBD Flores Timur menyampaikan penanganan darurat difokuskan pada distribusi logistik dan pemenuhan kebutuhan dasar warga di Pulau Adonara.
“Kami fokus pada distribusi logistik dan penanganan darurat di Pulau Adonara. Prioritas saat ini memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi dan lokasi pengungsian aman,” kata dia.
Bantuan logistik dan peralatan darurat telah dikirim dari Larantuka menuju wilayah terdampak sejak siang hari.
Baca Juga: Helm Peserta Seleksi Polri Dicuri di Area Mapolresta Kupang Kota, Pelaku Dibekuk Hitungan Jam
Pemerintah daerah bersama BNPB menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari guna mempercepat penanganan di lapangan.
Warga masih diliputi kekhawatiran akibat gempa susulan yang terus terjadi.
“Kami tidak berani kembali ke rumah karena retakan cukup besar. Saat ini memilih tinggal di tenda bersama keluarga,” kata Subaidah Elias, warga Desa Terong, saat ditemui di lokasi pengungsian.
Artikel Terkait
Terungkap! Calo Tiket Kapal Pelni di Kupang Jadikan Penipuan sebagai Mata Pencaharian
Konflik PHK di RS Bukit Lewoleba: Aturan Yayasan vs UU Ketenagakerjaan, Mediasi Berjalan Tanpa Kesepakatan
Nyaris Jadi Korban Amuk Massa, Remaja Pelaku Curanmor di Kupang Diselamatkan Polisi
Jejak Foto Ungkap Curanmor RSU Leona: Mahasiswa Semester Akhir Dibekuk di Baumata Barat
Polisi Mediasi Kasus Guru Aniaya Dua Siswa di Kupang, Berakhir Damai