REPORTASENTT.COM, VATIKAN- Dalam perayaan Minggu Paskah yang penuh makna, Paus Fransiskus kembali menyerukan pesan perdamaian dan kasih di tengah dunia yang masih dilanda konflik.
Dari balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan, pemimpin Gereja Katolik itu menyampaikan pesan dan berkat tahunan Urbi et Orbi, kepada kota dan dunia, yang menggema harapan akan kebangkitan dan rekonsiliasi.
Meski masih dalam masa pemulihan dari pneumonia bilateral, Paus tetap hadir menyapa puluhan ribu umat yang memadati Lapangan Santo Petrus yang dihiasi bunga tulip berwarna-warni.
Meski masih dalam masa pemulihan dari pneumonia bilateral, Paus tetap hadir menyapa puluhan ribu umat yang memadati Lapangan Santo Petrus yang dihiasi bunga tulip berwarna-warni.
Ia memilih untuk tidak membacakan pesannya secara langsung, melainkan mempercayakannya kepada Uskup Agung Diego Ravelli, Pemimpin Perayaan Liturgi Kepausan.
Dalam pesannya, Paus Fransiskus menegaskan makna kebangkitan Kristus bukan sebagai ide abstrak, melainkan sebagai kekuatan nyata yang menyembuhkan, mengubah, dan memberdayakan umat manusia.
“Cinta telah menang atas kebencian, cahaya atas kegelapan, dan kebenaran atas kepalsuan,” ujarnya.
Dalam pesannya, Paus Fransiskus menegaskan makna kebangkitan Kristus bukan sebagai ide abstrak, melainkan sebagai kekuatan nyata yang menyembuhkan, mengubah, dan memberdayakan umat manusia.
“Cinta telah menang atas kebencian, cahaya atas kegelapan, dan kebenaran atas kepalsuan,” ujarnya.
“Pengampunan telah menang atas balas dendam... Kejahatan masih ada, tetapi tidak lagi berkuasa atas mereka yang menerima rahmat hari ini.”
Seruan untuk Perdamaian Global
Paus Fransiskus tidak hanya menyoroti makna spiritual Paskah, tetapi juga menyampaikan keprihatinannya terhadap konflik dan penderitaan kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Ia mengawali dengan menyampaikan doa untuk Tanah Suci, khususnya masyarakat Gaza dan komunitas Kristen yang terdampak konflik berkepanjangan.
“Saya mohon sekali lagi untuk segera dilakukan gencatan senjata di Jalur Gaza, pembebasan para sandera, dan akses terhadap bantuan kemanusiaan,” tegasnya.
Baca Juga: Tarik Ulur Tarif Dagang: Indonesia dan AS Kasih Deadline 60 Hari, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Ia juga menyinggung situasi di Lebanon, Suriah, dan Yaman, serta menyerukan solusi damai melalui dialog konstruktif.
Untuk Ukraina, Paus memohon karunia damai yang adil dan abadi di tengah perang yang masih berlangsung.
Kepedulian juga disampaikan terhadap ketegangan di Kaukasus Selatan dan Balkan Barat, seraya mendorong rekonsiliasi dan kerja sama lintas batas.
Kepedulian juga disampaikan terhadap ketegangan di Kaukasus Selatan dan Balkan Barat, seraya mendorong rekonsiliasi dan kerja sama lintas batas.
Fokus pada Afrika dan Kebebasan Beragama
Paus secara khusus mengangkat krisis kemanusiaan di sejumlah wilayah Afrika, termasuk Republik Demokratik Kongo, Sudan, Sudan Selatan, Sahel, Tanduk Afrika, dan Great Lakes.
Ia mengecam kekerasan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil seperti sekolah dan rumah sakit.
Ia juga menyoroti pentingnya kebebasan beragama di seluruh dunia.
Ia juga menyoroti pentingnya kebebasan beragama di seluruh dunia.
“Tidak akan ada perdamaian tanpa kebebasan beragama, berpikir, dan berekspresi,” katanya, sembari menyerukan perlucutan senjata sebagai langkah nyata menuju perdamaian global.
Harapan untuk Myanmar dan Pembebasan Tahanan
Paus tidak melupakan penderitaan rakyat Myanmar, yang kini menghadapi krisis konflik dan dampak gempa bumi di Sagaing.
Ia menyampaikan belasungkawa dan menyambut positif pengumuman gencatan senjata sebagai secercah harapan bagi bangsa itu.
Di akhir pesannya, Paus juga menyerukan pembebasan tahanan perang dan tahanan politik, seraya berharap agar momen Paskah dalam Tahun Yubelium ini menjadi kesempatan untuk menegakkan prinsip kemanusiaan.
“Semoga prinsip kemanusiaan tidak pernah gagal menjadi ciri khas tindakan kita sehari-hari,” tutupnya.
Di akhir pesannya, Paus juga menyerukan pembebasan tahanan perang dan tahanan politik, seraya berharap agar momen Paskah dalam Tahun Yubelium ini menjadi kesempatan untuk menegakkan prinsip kemanusiaan.
“Semoga prinsip kemanusiaan tidak pernah gagal menjadi ciri khas tindakan kita sehari-hari,” tutupnya.
Artikel Terkait
Diduga Sediakan Wanita Penghibur, Kafe di Bintan Digeledah Polisi, Tapi Ini yang Terjadi!
Dibalik Identitas Pers: Oknum Mengaku Wartawan Ditangkap, Polisi Bongkar Jaringan Pemerasan di Cianjur
Bongkar Jaringan Ilegal AZKA.NET: Bisnis RT/RW Net Raup Puluhan Juta dari Fasilitas Negara
Aksi Licik di Parkiran RS Terbongkar: Spesialis Curanmor Dibekuk Saat Akan Beraksi Lagi
Wapres Amerika Serikat Bertemu Paus Fransiskus di Vatikan, Bahas Imigrasi dan Perdamaian